Tujuan Strategis

2014-2016


Memperkuat penyelenggaraaan bantuan hukum, pelayanan rehabilitasi dan psikososial terhadap anak-anak yang menjadi korban eksploitasi seksual.



Aktivitas Utama
  1. Melakukan kerjasama dengan Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, Mabes Polri, dan PERADI.
  2. Memberikan bantuan hukum langsung maupun rujukan.
  3. Menyelenggarakan berbagai pelatihan, pendidikan, pendampingan dan sharing informasi bersama lembaga mitra.
  4. Menyelenggarakan pelatihan psikososial dan rehabilitasi terhadap anak yang menjadi korban sebagai penguatan internal dan eksternal.
  • Membangun kerjasama dengan berbagai lembaga penegak hukum di Indonesia pada tingkat nasional.
  • Meningkatkan kapasitas lembaga-lembaga masyarakat sipil untuk dapat memberikan bantuan hukum secara langsung kepada korban eksploitasi seksual anak.
  • Membuat model pendampingan yang komprehensif kepada korban eksploitasi seksual anak.
  • Memperkuat kapasitas pelayanan rehabilitasi dan psikososial mitra lokal.
  • MOU dengan pihak Mahkamah Agung, Kejaksaan agung, Mabes Polri, dan PERADI berhasil dibuat sehingga memperkuat komitmen dari institusi penegak hukum ini.
  • Bertambahnya lembaga-lembaga atau organisasi masyarakat sipil yang punya minat dalam memberikan bantuan hukum kepada korban eksploitasi seksual anak.
  • ECPAT Indonesia memiliki model penanganan hukum korban eksploitasi seksual dan dijadikan sebagai lembaga pembelajaran bagi organisasi masyarakat sipil.
  • Tersedianya layanan rehabilitasi dan psikososial di mitra lokal.

Advokasi kebijakan dan harmonisasi hukum tentang eksploitasi seksual anak di Indonesia.



Aktivitas Utama
  1. Melibatkan diri dalam proses peningkatan status ratifikasi melalui kajian dan uji publik untuk meningkatkan status KHA dari keppres menjadi Undang-Undang.
  2. ECPAT terlibat proaktif dan konstruktif dalam penyusunan dan pemantauan implementasi RAN ESKA.
  • Mendukung peningkatan status KHA dari keppres menjadi Undang-Undang.
  • Mendorong percepatan revisi undang-undang perlindungan anak dan undang-undang lain termasuk PERDA yang relevan dengan eksploitasi seksual anak.
  • Memastikan adanya anggaran untuk korban eksploitasi seksual anak di dalam APBN dan APBD.
  • Membangun model Advokasi di pusat dan di daerah yang berkelanjutan.
  • Keterlibatan ECPAT dan anggotanya dalam mewujudkan KHA menjadi UU.
  • Revisi Undang-Undang Perlindungan Anak dan PERDA yang relevan (KUHP, KUHAP) dengan memastikan adanya jaminan perlindungan korban terutama komponen restitusi, kompensasi dan rehabilitasi.
  • Lahirnya rencana aksi nasional penghapusan eksploitasi seksual anak pada level yang lebih tinggi (Keppres) sehingga menjamin adanya anggaran berkelanjutan dalam APBN dan APBD
  • ECPAT Indonesia memiliki model advokasi yang berkelanjutan sebagai acuan dalam melaksanakan advokasi pada tingkat nasional dan provinsi.

Membangun kesadaran publik untuk menghapus permintaan terhadap Eksploitasi Seksual Anak.



Aktivitas Utama
  1. Menyusun panduan dan instrumen dalam mencegah eksploitasi seksual di tingkat pengguna seks anak
  2. Menjalin kerjasama dengan berbagai sektor industri pariwisata dan rekreasidalam mempromosikan pencegahan penggunaan seks anak.
  3. Menyusun strategi berbasis IT dan konvensional untuk membangun kesadaran publik.
  4. Membangun keterampilan dan literasi berbasis IT dan konvensional untuk perlindungan diri terhadap anak.
  • Mengembangkan panduan dan instrumen dalam mencegah eksploitasi seksual di tingkat pengguna seks anak
  • Membangun kemitraan strategis dengan berbagai sektor industri pariwisata dan rekreasidalam mempromosikan pencegahan penggunaan seks anak.
  • Mengembangkan strategi berbasis IT dan konvensional untuk membangun kesadaran publik.
  • Membangun keterampilan dan literasi berbasis IT dan konvensional untuk perlindungan diri terhadap anak.
  • Meningkatkan partisipasi orang muda dalam penghapusan ESKA.
  • Adanya panduan dan instrumen yang dimiliki oleh ECPAT Indonesia dalam melakukan kampanye pencegahan eksploitasi seksual anak yang ditujukan kepada pengguna seks anak.
  • ECPAT berhasil menjalin kerjasama dengan berbagai sektor industri pariwisata dan rekreasi(Perusahaan) yang bersentuhan dengan terjadinya eksploitasi seksual anak.
  • Adanya formula dan alat bantu dalam menggunakan teknologi informasi ECPAT dimasa depan dalam mencegah ekploitasi seksual online pada anak.
  • Tersedia program dan tools untuk membantu anak, guru dan orang tua.
  • Semakin banyak anak muda yang peduli dan berpartisipasi aktif dalam penghapusan ESKA.

Mendorong terciptanya mekanisme yang terintegrasi dengan hak asasi manusia dalam meningkatkan implementasi opsional protokol konvensi hak anak tentang penjualan anak, pelacuran anak dan pornographi anak.



Aktivitas Utama
  1. Mendorong pemerintah untuk segera melaksanakan isi dari opsional protocol
  2. Menyusun laporan alternative untuk cluster 8 dari masyararakat sipil
  • Mendorong pemerintah untuk segera melaksanakan isi dari opsional protokol
  • Mendorong perubahan kebijakan melalui laporan alternative untuk cluster 8 dari masyararakat sipil
  • ECPAT Indonesia dan mitranya berhasil menyusun kelompok pemantau pelaksanaan opsional protokol
  • ECPAT Indonesia dan mitranya menyusun laporan alternative untuk cluster 8 dan mendialogkan laporan ini kepada masyarakat sipil dan komite hak anak PBB

Ingin turut beraksi dalam memberantas ESKA?

Peran serta Anda dapat membantu mengurangi kasus Eksploitasi Seksual Komersial Anak.

webmasterAksi Kami