160 Anak Perempuan di Indonesia Menjadi Korban ESKA

Berita, Publikasi MediaKomentar

rsz_infografis_oktober_2016_-_internship-2

Upaya pemerintah terhadap penanggulangan masalah Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) masih terbilang rendah. Kehadiran Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak ternyata belum mampu melindungi anak dari bahaya eksploitasi seksual. Hal ini terbukti dari masih banyaknya anak yang menjadi korban. Berdasarkan pantauan ECPAT Indonesia selama bulan Oktober 2016, jumlah anak yang menjadi korban mencapai 160 orang dari enam kasus yang berhasil terungkap. Kasus yang terungkap meliputi prostitusi anak (tiga kasus), prostitusi anak online (dua kasus), dan pornografi anak (satu kasus).

Berdasarkan hasil pemantauan selama bulan Oktober 2016, ECPAT Indonesia menemukan bahwa kasus ESKA tersebar di lima provinsi di Indonesia. DKI Jakarta, sebagai Ibukota Negara, menjadi lokasi utama yang memiliki ancaman ESKA tertinggi. Hal ini terbukti dari 160 korban ESKA yang tercatat pada bulan Oktober 2016, 150 korban (93 persen) diantaranya berasal dari DKI Jakarta.

Tidak hanya di Ibukota, berbagai provinsi lain di Indonesia mulai menunjukkan gejala Eksploitasi Seksual Komersial yang melibatkan anak. Provinsi Lampung misalnya, ditemukan kasus ESKA dengan jumlah korban mencapai lima orang. Sedangkan, Provinsi Kalimantan Tengah dan Jawa Timur juga ditemukan kasus yang melibatkan masing-masing dua anak sebagai korban. Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Kutai Timur, juga ditemukan kasus ESKA yang melibatkan satu orang anak.

Jika dibandingkan dengan hasil pemantauan ECPAT Indonesia selama bulan September 2016, hasil pemantauan pada bulan Oktober 2016 menunjukkan tren yang berbeda. Berdasarkan data pada bulan September 2016, dari 168 korban ESKA, sekitar 148 anak atau 88 persennya didominasi oleh anak laki-laki. Hal ini berbeda dengan hasil pemantauan pada bulan Oktober 2016. Dari 160 korban ESKA, seluruhnya adalah anak perempuan. Kondisi ini menunjukkan, kasus ESKA merupakan kasus yang rentan bagi semua anak, baik anak laki-laki maupun anak perempuan.

Salah satu kasus yang menghebohkan publik pada bulan Oktober 2016 adalah kasus Pornografi Anak yang melibatkan 150 korban. Kasus ini dilatarbelakangi dari kurangnya pengetahuan mengenai ESKA. Pelaku menggunakan media sosial facebook untuk mendekati anak-anak perempuan di bawah umur, dengan modus seolah-olah pelaku dapat melihat aura negatif yang ada di dalam diri para korban. Namun, pembacaan aura tersebut mengharuskan korban mengirimkan foto tanpa busana, dengan target bagian vital, seperti payudara. Jika korban hanya mengirimkan foto setengah busana, pelaku mengancam akan menyebar foto korban di dunia maya.

Meskipun kasus pornografi anak tersebut sudah terungkap, hal ini bukan berarti anak-anak Indonesia sudah terbebas dari ancaman pornografi anak. Para predator dan pedofilia anak online masih banyak yang berkeliaran dan mengancam keselamatan anak-anak Indonesia. Oleh karena itu, sudah seharusnya pemerintah dan masyarakat mengambil peran untuk bersama-sama melindungi, mencegah, dan menghapus permasalahan ESKA di Indonesia. Misalnya saja dengan meningkatkan peran pengawasan orang tua terhadap penggunaan sosial media, meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang bahaya ESKA, serta agenda-agenda aksi lainnya yang dapat dilakukan bersama. Hal ini dilakukan agar tidak ada lagi anak yang terjerumus dalam situasi ESKA di masa mendatang.

Penulis :

Netaneel Yoana & Hana Anggraini Putri ( Mahasiswi Internship Universitas Bina Nusantara Divisi Research)

Editor :

Deden Ramadani ( Research Coordinator ECPAT Indonesia )

ECPAT Indonesia160 Anak Perempuan di Indonesia Menjadi Korban ESKA

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *