Dialog Penerapan Kepentingan Terbaik Anak dan Partisipasi Anak Perempuan terhadap Akses Keadilan dalam Kasus Kekerasan Seksual

BeritaKomentar

ECPAT Indonesia menghadiri dialog tentang “Penerapan Kepentingan Terbaik Anak dan Partisipasi Anak Perempuan terhadap Akses Keadilan dalam Kasus Kekerasan Seksual” yang diselenggarakan oleh Kalyanamitra pada hari Senin, 12 November 2018. Kegiatan ini dilatar belakangi oleh hasil kajian tentang akses keadilan anak perempuan dalam kekerasan seksual di 6 negara anggota ASEAN yaitu: Brunai Darussalam, Cambodia, Indonesia, Myanmar, Filipina, dan Thailand yang dilakukan oleh Weaving Women’s Voices in ASEAN (WEAVE) yaitu sebuah jaringan tingkat regional yang bekerja untuk advokasi isu perempuan di ASEAN. Narasumber dalam kegiatan ini antara lain, Rena Herdiyani dari Kalyanamitra, Siti Mazuma dari LBH APIK Jakarta, Ajeng Purnama dari Sekretariat ASEAN, yang di moderator oleh Johana Tantria Wardhani.

Rena Herdiyani menjelaskan bahwa penelitian WEAVE mengembangkan kerangka kerja akses keadilan bagi anak perempuan dalam konteks kekerasan seksual dengan judul The Girl-Child and Her Best Interests, Sexuality, and Access to Justice in the Context of Sexual Violence. Adapun unsur-unsur dari kerangka kerja tersebut, adalah: (a) anak perempuan dan anak perempuan yang terpinggirkan; (b) kepentingan terbaik anak perempuan dan partisipasi anak; (c) akses keadilan untuk anak perempuan; dan (d) kekerasan seksual terhadap anak perempuan, dimana kekerasan seksual adalah situasi dalam seksualitas anak perempuan atau situasi yang menyerang seksualitas anak perempuan, sehingga yang kemudian muncul dipermukaan adalah kekerasan dan seksualitas yang saling terkait erat (saling berkelindan).

Hasil kajian WEAVE menunjukkan bahwa prinsip kepentingan terbaik bagi anak belum secara maksimal diterapkan dalam sistem peradilan untuk kasus-kasus kekerasan seksual. Selain itu, sistem peradilan juga masih bias orang dewasa, dimana penentuan kepentingan terbaik anak diberikan kepada orang dewasa. WEAVE mendokumentasikan bagaimana praktek penerapan prinsip kepentingan terbaik bagi anak dan partisipasi anak dalam proses hukum kasus-kasus kekerasan seksual. Hasil pendokumentasian kasus ini diharapkan dapat menjadi gambaran apa yang masih menjadi kendala dan belum maksimal dilaksanakan dalam proses hukum kasus kekerasan seksual di 6 negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Di tingkat nasional, Siti Mazuma LBH Apik Jakarta menuturkan, ada beberapa kendala pada saat kasus kekerasan seksual akan diproses hukum, satu contoh kasus kekerasan seksual siswa SD oleh gurunya, proses hukum kasus tersebut mendapat tekanan dari pihak sekolah dan masyarakat, korban diminta berdamai dan mencabut laporannya.  Pada kasus incest, seringkali korban yang berusaha melaporkan kasusnya mendapatkan kendala dianggap sebagai pihak yang mempermalukan nama keluarga, sehingga korban mendapatkan tekanan untuk mencabut kasusnya. Pada anak korban kekerasan seksual di komunitas adat, hukum adat juga seringkali tidak memberikan keadilan bagi korban, yaitu dengan menerapkan hukuman denda pada pelaku (misalnya salah satu adat menerapkan denda babi pada pelaku), sehingga mereduksi kasus kekerasan seksual seolah sebagai kasus kecil dan sepele, padahal dampak kasus kekerasan menimbulkan trauma mendalam bagi korban yang akan dibawa seumur hidup. Perkembangan positif di Indonesia, saat ini ada praktek baik dari pengadilan yang menyidangkan kasus kekerasan seksual dengan menggunakan perspektif anak, yaitu dengan tidak menggunakan toga, namun hakim, jaksa dan pengacara menggunakan baju biasa, dengan proses sidang yang dilakukan dengan ruangan biasa.

Kegiatan ini di hadiri oleh beberapa NGO seperti Wahana Visi, ECPAT Indonesia, LBH APIK Jakarta, YMCA, ACWA Indonesia, AICHR Indonesia, Solidaritas Perempuan, KPAI, Yayasan Kesehatan Perempuan, CWGI, Jurnal Perempuan, dan beberapa lainnya.

Penulis : Umi Farida

ECPAT IndonesiaDialog Penerapan Kepentingan Terbaik Anak dan Partisipasi Anak Perempuan terhadap Akses Keadilan dalam Kasus Kekerasan Seksual

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *