Kajian Kemensos Dan Ecpat Indonesia Tentang Pelaku Kejahatan Seksual Anak Oleh Pelaku Anak

BeritaKomentar

Kemensos Penelitian

Jakarta, 30 Agustus 2017, Kementerian Sosial RI memaparkan hasil kajian mendalam yang dilaksanakan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS atau Babes Litbang Yankesos) Kementerian Sosial RI dan ECPAT Indonesia tentang fenomena anak pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Kajian ini untuk mengidentifikasi karakteristik sosial ekonomi keluarga, pelaku, dan korban kekerasan seksual anak terhadap anak; faktor determinan yang mempengaruhi anak melakukan kekerasan seksual terhadap anak lain; upaya yang telah ditempuh sejumlah Panti Sosial Marsudi Putra, Lembaga Perlindungan Anak, dan berbagai pihak terkait dalam penanganan kasus kekerasan seksual oleh anak terhadap anak. sehingga ke depan dapat dirumuskan model perlindungan sosial yang tepat untuk meminimalkan terjadinya tindak kekerasan seksual yang dilakukan anak terhadap anak di Indonesia. Hadir dalam kegiatan ini adalah Ibu Menteri Khofifah Indar Parawangsa, Bapak Edi Suharto, DR. Istiani Hermawati M.Sos, DR. Endro Winarso, M.Si dan Perwakilan ECPAT Indonesia Andy Ardian.

Hasil Susenas Badan Pusat Statistik tahun 2014 mengungkap bahwa jumlah anak korban kekerasan mencapai 247.610 jiwa, dan diperkirakan 74.283 jiwa diantaranya adalah korban kekerasan seksual. Demikian halnya menurut KPAI, bahwa dari seluruh kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi sejak tahun 2011 hingga 2016, diperkirakan 30% diantaranya atau sekitar 1.965 kasus adalah kekerasan seksual terhadap anak. Menariknya, trend jumlah anak korban kekerasan seksual dengan jumlah anak pelaku kekerasan seksual relatif sebanding dari tahun ke tahun (bankdata.kpai.go.id).

Layanan Kemensos

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan faktor determinan yang mempengaruhi anak melakukan kekerasan seksual kepada anak adalah pornografi (43%), pengaruh teman (33%), pengaruh narkoba/obat (11%), pengaruh historis pernah menjadi korban atau trauma masa kecil (10%) dan pengaruh keluarga (10%).

Hasil Penlitian Kemensos ECPAT Indonesia

Yang menjadi perhatian menurutnya kekerasan yang dilakukan oleh anak ini melalui paksaan (67%), anak bukan saja melakukan kekerasan seksual, namun pemaksaan sudah menunjukkan perilaku yang harusnya lebih mendapat perhatian dalam rehabilitasinya. Sementera lainnya pelaku hanya meraba organ sensitif (30%) hingga hubungan badan (26%). Dan perlu sekali bagi orang tua untuk memperhatikan pengasuhan anaknya, karena dari data yang didapat mayoritas pelaku tinggal dengan orangtua (61,22%) yang tentunya mendapatkan pengasuhan, perhatian dan pengawasan orang tua. Karena itu sebagai pelaku utama dalam perlindungan anak khofifah mengharapkan orang tua harus lebih memperhatikan kembali pengasuhan anaknya katanya saat memberikan penjelasan ke wartawan.

Sementara paparan lainnya yang disampaikan oleh ibu DRl Isti selaku wakil ketua penelitian, hampir seluruh korban (87%) telah mengenal pelaku dalam 1-3 tahun terakhir (69%) dengan rentang usia 5-17 tahun. Berdasarkan perspektif pelaku, kajian ini menunjukkan kecenderungan karakteristik korban adalah pendiam, cengeng, dan pemalu (35,44%) atau hiperaktif, bandel, nakal (24,05%) atau suka berpakaian minim (13,92%).

Dalam hal ini Kemensos akan mengembangkan model perlindungan sosial alternatif bagi pelaku dan korban dengan memperhatikan 6 hal dibawah :

  1. Mengurangi pelesiran internet pada anak
  2. Mengembangkan terapi multi sistem pada pelaku kekerasan seskual anak
  3. Peningkatan kapasitas pekerja sosial
  4. Memperkuat Pembinaan anak pelaku kekerasan seksual yang berbasiskan komunitas dan mengurangi peran institusi sosial
  5. Sinergitas antara penegak hukum dan institusi Perlindungan sosial anak
  6. Perubahan legislasi dalam penanganan pelaku kekerasan seksual anak

Penulis :

Andy Ardian (Program Manager ECPAT Indonesia)

ECPAT IndonesiaKajian Kemensos Dan Ecpat Indonesia Tentang Pelaku Kejahatan Seksual Anak Oleh Pelaku Anak

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *