Kilau Netizen Unggul (Malang)

BeritaKomentar

ECPAT Indonesia tergabung bersama Yayasan Sejiwa dan ICT Watch dalam program Kilau Netizen Unggul, program ini bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, berupa sosialisasi tentang “Bahaya Pornografi bagi Anak”, yang akan dilaksanakan di Malang dan Medan.

Tujuan dari kegiatan Kilau Netizen Unggul adalah untuk; (1) menguatkan literasi digital bagi anak-anak, para orangtua, pendidik, dan para penggiat di masyarakat, khususnya dalam pencegahan isu-isu pornografi di seputar anak. (2) Melibatkan pihak-pihak dalam program ini yang memiliki kapasitas untuk menyebarkan pesan pesan perlindungan anak di ranah daring, baik terhadap pendidik maupun anak, agar anak-anak tidak terpapar pornografi. (3) Membangun kesadaran semua pihak agar mampu melindungi anak-anak dari bahaya pornografi.

Kegiatan pertama Kilau Netizen Unggul dilaksanakan di Malang, Jawa Timur pada hari Jum’at tanggal 9 November 2018. Dengan susunan materi sosialisasi sebagai berikut; presentasi pertama dari SEJIWA, tentang bagaimana “Mencegah Anak dari Isu Rentan Pornografi”, kedua presentasi dari ECPAT Indonesia tentang “Eksploitasi Seksual Anak secara Online” khususnya konten yang mengandung eksploitasi seksual anak (pornografi), presentasi ketiga dari ICT Watch yang berbicara tentang “Memahami dan mengatasi pornografi pada media sosial”, presentasi terakhir dari SEJIWA tentang “Aku Netizen Unggul”.

Presentasi ECPAT Indonesia, dimulai dengan studi kasus pornografi yang melibatkan anak di Bandung, yaitu kasus industri pornografi yang melibatkan tiga (3) orang anak laki-laki, dua (2) diantaranya berumur sembilan (9) tahun dan satu anak berumur sebelas (11) tahun. Studi kasus ini diharapkan dapat menambah pengetahuan peserta bahwa ancaman pornografi ada didepan mata, baik itu kerentanan anak sebagai konsumen pornografi atau anak dijadikan sebagai obyek sasaran dari proses produksi industri pornografi. Belajar dari pengalaman yang terjadi di kasus pornografi yang melibatkan anak di Bandung, bahwa kerentanan itu semakin berat pada saat orang-orang terdekat dari anak menjadi salah satu pelaku pornografi, hal ini membuat posisi anak semakin tidak berdaya dan dipaksa untuk masuk dan menjadi korban pornografi.

Setelah studi kasus, peserta diajak untuk melihat pengertian pornografi, yaitu CSAM atau Materi yang mengandung muatan kekerasan seksual terhadap anak atau setiap perwujudan melalui sarana apapun, seorang anak terlibat dalam situasi nyata atau disimulasikan secara eksplisit melakukan aktifitas seksual atau perwujudan lain dari organ seks anak, utamanya untuk tujuan seksual.

Lebih spesifik, pengertian pornografi anak adalah suatu tindakan yang terkait eksploitasi seksual anak berupa konten elektronik, meliputi: mendapatkan akses atau berusaha untuk mendapatkan; memiliki; menawarkan atau menyediakan; mengimpor atau mengekspor; mendistribusikan, menyebarkan atau mengirimkan; mendaftarkan; menjual dan memproduksi.

Setidaknya ada tiga (3) Undang-undang yang dapat digunakan untuk mencegah, menangani atau menindak dan melindungi anak dari kasus pornografi yaitu Undang-undang No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi yang melarang melibatkan anak dalam kegiatan dan/atau sebagai obyek eksploitasi seksual secara online, Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang mengatur pemberatan sanksi bagi pelaku kejahatan terhadap anak terutama kepada kejahatan seksual dan Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang melarang memposting konten atau materi yang mengandung unsur eksploitasi seksual anak.

Penulis : Umi Farida

ECPAT IndonesiaKilau Netizen Unggul (Malang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *