Konferensi Regional Asia Tenggara dalam Memerangi Pornografi Anak – Bangkok

Berita, Publikasi MediaKomentar

rsz_img_0599_konferensi_international_pornografi_anak

Bangkok, 10-11 Nevember 2016 – Sejumlah perwakilan dari negara asia tenggara berkumpul dalam satu parhelatan Konferensi se Asia Tenggara untuk memerangi Pornografi Anak di tanggal 10-11 November 2016 di Bangkok.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh German Southeast Asian Center of excellence for Public Policy and Good Governance (CPG), Fakultas Hukum Universitas Thammasatn-Thailand yang menghadirkan pembicara dari berbagai sektor seperti akademisi, praktisi, penegak hukum, LSM, Perwakilan Negara. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari dengan menghadirkan narasumber dari berbagai negara dan berbagai perspektif dari masing-masing sektor/bidang penanganan yang dihadiri sebanyak 40 peserta hadir dalam kegiatan ini.

Henning Glaser, Direktur CPG, dalam sambutannya mengatakan bahwa pornografi anak semakin meningkat dengan cepat di era teknologi saat ini, perlunya pemahaman bersama negara-negara asean untuk melihat permasalahan ini secara bersama karena konteks wilayah dan cakupan di Asean masih relatif memiliki situasi dan kondisi yang tidak jauh berbeda, sehingga perlu dibangun kerjasama yang lebih erat antar negara asean. Konferensi ini bisa menjadi awal dari komitmen bersama dalam memerangi pornografi anak di ASEAN.

Hadir dalam kegiatan ini Afrooz kaviani johnson Unicef Regional Asia, Pol Lt. Gen. Tamasak Wicharaya Ph.D. dari Kepolisian Kerajaan Thailand dan Tania Aguelova perwakilan ECPAT International, perwakilan dari kamboja, philipine, malaysia, Thailand, dan Indonesia dihadiri oleh Andy Ardian dari ECPAT Indonesia serta Ibu Maria Advianti, Komisioner KPAI bidang pornografi anak.

Andy, dalam presentasenya di konferensi tersebut menyampaikan bahwa situasi pornografi anak di Indonesia juga semakin meningkat, namun upaya penaganannya masih sangat kecil. Sebagai contoh Indonesia sudah meratifikasi Protokol tambahan dari KHA tentang perdagangan anak, prostitusi anak dan pornografi anak, namun belum terlihat signifikan langkah-langkah yang dilakukan oleh Indonesia dalam mengatasi masalah ini. ECPAT Indonesia pernah melaksakana Konferensi Regional Asia Tenggara di Jakarta tahun 2012 tentang perlindungan anak dari Situasi Online, di konferensi tersebut, tercatat bahwa indonesia menjadi negara terbesar di Asia tenggara yang menerima dampak negatif dari hadirnya internet.

data-online-icmec

Sementara di tahun 2015 kemarin cyber Crime Mabes polri memaparkan bahwa terdapat 201.974 insiden Pelanggaran ekploitasi seksual anak (CyberTipline) melalui online yang tercatat oleh penyedia jasa layanan internet (ISP) terjadi di Indonesia.

Beberapa tahun terakhir juga kepolisian indonesia berhasil mengungkap kejahatan pornografi anak kasus candra adiguna di Surabaya 2014, k
asus protitusi anak di apartemen kalibata City Jakarta tahun 2015, dan kasus pornografi anak di jakarta dengan korban sebanyak 150 anak november 2016. situasi ini semakin memperkuat bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami ancaman serius dari dampak negatif perkembangan internet yang digunakan untuk kejahatan eksploitasi seksual terhadap anak.

Afrooz, dari Uniceff Asia menyampaikan paparan mengenai situasi melindungi anak dalam era digital. Konsep ini dikembangkan oleh Uniceff untuk membantu setiap orang ataupun negara-negara dalam memahami situasi digital yang sangat mempengaruhi kerentanan terhadap perlindungan anak.

Bersamaan dalam hal ini Tania dari ECPAT International memaparkan pentingnya membangun jejaring secara global dalam upaya memerangi situasi ini. ECPAT International. Dalam waktu dekat ini ECPAT International akan melaunching global data tentang situasi penanganan ESKA oleh banyak negara yang bisa diakses oleh publik.

rsz_konferensi_pornografi_anak_10-11_november_2016

Sejumlah pembicara lainnya saling bertukar pengalaman, dan peran dalam memerangi pornografi anak, seperti adanya hotline service yang dibuat di kamboja, upaya penanganan perlindungan anak dari sisi online yang juga didukung dengan layanan rehabilitasi bagi pelaku oleh malaysia, Philiphine dalam upayanya mengadopsi instrument international, serta Thailand dalam mengungkap kejahatan eksploitasi seksual anak yang sudah mentradisi di tahun 80 an.

Konferensi ini berjalan dengan baik dan penuh antusias dari peserta. Dalam kesimpulan akhir para pembicara dan peserta disadari bahwa bahwa permasaahan pornografi anak semakin meluas sejak era teknologi digital saat ini. Pendekatan penanganan berbasis negara belum bisa menyelesaikan permasalahan ini, oleh karena itu diperlukan upaya kerjasama lintas negara dan lintas regional dalam memerangi pornografi anak. Permasalahan ini bukan hanya menjadi permasalahan salah satu negara, tetapi menjadi permasalahan bersama yang juga butuh kerjasama satu sama lain.

Andy Ardian

( Program Manager ECPAT Indonesia )

ECPAT IndonesiaKonferensi Regional Asia Tenggara dalam Memerangi Pornografi Anak – Bangkok

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *