KPAI : Diskusi Pemetaan Daerah Rawan, Pencegahan Dan Penanganan Trafficking Dan Eksploitasi Anak Di Indonesia.

BeritaKomentar

fgd kpai 22 nov 2017 2

Jakarta 22 November 2017, bertempat di sekretariat Komisi perlindungan Anak Indonesia, KPAI menyelenggarakan FGD dalam upaya melakukan pemetaan daerah rawan, strategi pencegahan dan penanganan, sebagai upaya efektifitas pengawasan trafficking dan eksploitasi anak bersama beberapa komponen pemerintah, penyedia layanan, kelompok masyarakat sipil serta penggiat trafficking dan perlindungan anak, kelompok berbasis agama, dan media.

Hadir dalam kegiatan ini Ibu Ai Maryati selaku komisioner KPAI bidang trafficking dan eksploiitasi memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan diskusi tersebut. KPAI sebagai lembaga negara memiliki sejumlah data untuk masalah trafficking dan eksploitasi anak dalam 4 katagori berbasis sistem data base, diantaranya anak sebagai korban trafficking , anak korban eksploitasi seks komersial anak (ESKA), anak korban prostitusi online dan anak korban eksploitasi pekerja anak dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2017 mencapai angka 1.499 kasus, dengan peningkatan kasus pada setiap tahunnya. Selanjutnya data anak yang bekerja menurut satuan kerja nasional Biro Pusat Statistik tahun 2014 anak usia 10-17 tahun sekitar 2,7 juta anak.

Perwakilan International Organization Migration, Emmy saridjono yang hadir dalam kegiatan ini menyampaikan bahwa Data base IOM dari tahun 2005 sampai 2017 saat ini ada sebanyak 8876 korban traffficking yang di rujuk ke IOM. 15% nya atau sebanyak 1155 korban adalah anak. 52% di perdagangkan lintas negara dan 47% nya diperdagangkan dalam negeri. Dari data tersebut IOM memetakan asal korban dengan urutan pertama adalah propinsi kalimantan barat disusul Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah dan yang terakhir adalah Nusa Tenggara Barat.

ECPAT Indonesia yang diwakili oleh Andy Ardian selaku program manager diminta memaparkan situasi eksploitasi seksual anak di Indonesia. Tercatat dari hasil penelitian ECPAT Indonesia dalam global studi di tahun 2015 didapati bahwa wilayah yang menjadi destinasi tujuan wisata tidak terlepas dari dampak prostitusi dan eksploitasi seksual anak. setidaknya ada 5 bentuk eksploitasi seksual anak yang ditemui dalam penelitian yakni (i) prostitusi anak yang bisa di temui di tempat tempat hiburan seperti bar/kafe/pub, SPA, Hotel, dan fasilitasi karaoke serta tren layanan seks di apartemen, (ii) Prostitusi online melalui sosial media, (iii) pedofilia yang banyak terjadi di Bali, (iv) halal seks tourism untuk situasi wilayah Bogor, (v) Kopi Pangku di kalimantan Barat.

KPAI merasa berkepentingan untuk membangun sebuah role map, sebagai guide dalam pengawasan dan monitoring serta menjalankan tugas-tugas KPAI ke depan dalam penanganan tindak pidana perdagangan orang dan eksploitasi yang akan memprioritaskan pengawasan pada 2 tahun mendatang sekurang-kurangnya dalam 4 kerangka pendekatan, yakni (i)  Kerawanan daerah prostitusi meliputi daerah pariwisata  (ii) Kerawanan daerah tujuan kerja meliputi daerah pabrik (iii) Kerawanan daerah pekerja migran meliputi daerah pengirim utama pekerja migran (iv) Kerawanan daerah pengguna online meliputi eksploitasi kerja dan seksual. Untuk itu melalui FGD ini ke depan KPAI akan terus bekerjasama dengan seluruh komponen untuk melindungi anak-anak di indonesia khususnya dalam situasi trafficking dan eksploitasi anak.

Penulis :

Andy Ardian (Program Manager ECPAT Indonesia)

ECPAT IndonesiaKPAI : Diskusi Pemetaan Daerah Rawan, Pencegahan Dan Penanganan Trafficking Dan Eksploitasi Anak Di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *