Pelatihan Gerakan Bantuan Hukum Untuk Menciptakan Keadilan Bagi “ESKA” (Eksploitasi Seksual Komersial Anak)

Berita, Publikasi MediaKomentar

pelatihan ukum

ECPAT Indonesia dan Universitas Bina Nusantara bekerjasama dalam menyelenggarakan “Pelatihan Gerakan Bantuan Hukum Untuk menciptakan Keadilan Bagi ESKA”. Pelatihan ini di inisiasi oleh ECPAT Indonesia untuk memperkenalkan isu ESKA kepada mahasiswa-mahasiswa yang mempunyai ketertarikan pada isu ESKA ini. Selain itu ECPAT Indonesia juga ingin berbagi pengalaman tentang penanganan kasus-kasus ESKA yang selama ini ditangani oleh divisi pelayanan hukum ECPAT Indonesia. Universitas Bina Nusantara, dalam hal ini  jurusan Business Law juga memberikan dukungannya terhadap pelatihan ini dan mereka juga sangat senang dengan adanya pelatihan ini yang diselenggrakan di salah satu kampus mereka yaitu kampus Kijang.

Tujuan pelatihan ini dibuat agar generasi muda khususnya mahasiswa paham tentang isu ESKA dan untuk mengetahui bagaimana cara mendampingi anak-anak yang menjadi korban ESKA. Hal ini sebagai salah satu proses regenerasi dalam memahami bantuan hukum khusus ESKA dan meningkatkan perspektif dalam penanganan korban. kegiatan ini sangat berguna untuk menciptakan sebuah sistem regenerasi yang berkelanjutan, berprespketif dan progresif. Proses kaderisasi ini merupakan sebuah bentuk proses kaderisasi untuk menyebarkan nilai-nilai bantuan hukum bagi masyarakat miskin terutama bagi anak terutama ESKA.

Pada pelatihan ini ECPAT Indonesia menghadirkan para narasumber yang memang mempunyai kapasitas dalam dunia hukum dan juga bantuan hukum, seperti Supriyadi W Eddyono selaku Direktur Institut Criminal Justice Reform (ICJR), Bapak Dr. Shidarta SH, MHum selaku ketua jurusan Business Law Universitas Bina Nusantara, Ratna Batara Munti selau Direktur LBH APIK, Ricky Gunawan selaku Direktur LBH Masyarakat ,Fahrudin Wahyudi selaku peneliti di LBH Pers, Endang selaku Direktur Yayasan Bandungwangi selain itu ECPAT Indonesia juga menghadiri narasumber dari instansi pemerintah seperti Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Mabes Polri Ibu Rita dan juga dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Ibu Lies Sulistiani selaku Komisioner Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.

Pada Pelatihan ini ECPAT Indonesia mengundang mahasiswa-mahasiswa dari beberapa Universitas dan berbagai jurusan dengan tujuan untuk memperkenalkan isu ESKA dikalangan mahasiswa yang ada disekitar Jabodetabek. ECPAT Indonesia memang mengutamakan para mahasiswa-mahasiswa hukum untuk ikut ambil bagian dalam pelatihan ini karena dalam pelatihan ini banyak membahas masalah hukum yang terkait dengan kasus-kasus ESKA. Hal ini dilakukan agar ada bibit-bibit mahasiswa yang terutama mahasiswa hukum yang mempunyai kepedulian terhadap permasalahan ESKA terutama terkait dengan permasalahan hukumnya.

Pada hari pertama pelatihan ini dibuka oleh salah satu perwakilan dosen dari business law Universitas Bina Nusantara yaitu Bapak Dr. Besar. S.H, M.H, dalam kesempatan ini Pak Besar mengatakan bahwa pelatihan seperti ini akan berguna bagi mahasiswa-mahasiswa jurusan hukum untuk mempunyai bekal pengetahuan tentang isu ESKA dan juga peran dari pendampingan korban ESKA. Selain dari perwakilan Universitas Bina Nusantara acara ini juga dibuka oleh Andy Ardian yang merupakan perwakilan dari ECPAT Indonesia.

Pada sesi pertama yang di isi oleh Direktur ICJR Supriyadi W Eddyono, Bang Supi sapaan akrab beliau memberikan materi tentang Konstitusi dan Hak-hak Anak di Indonesia. Pada kesempatan ini pemateri memberikan pengetahuan tentang hak-hak dasar manusia di Indonesia yang terdapat di Undang-Undang Dasar 1945, dan untuk hak-hak dasar anak dalam konstitusi Indonesia terletak di pasal 28B ayat (2) dan pasal 34 ayat (1), pemateri juga memberitahukan 4 prinsip hak anak yaitu: Non diskriminasi, Kepentingan terbaik anak, Hak untuk tumbuh dan berkembang dan Partisipasi anak. Pada akhir sesi pemateri memberikan tugas kepada kelompok-kelompok yang telah dibentuk menjadi 4 kelompok untuk membahas dan menganalisa hasil putusan kasus-kasus yang berkaitan dengan anak.

Pada sesi kedua di hari pertama ECPAT Indonesia mengundang Bapak Dr. Shidarta S.H, M.H untuk mengisi materi tentang Geralan Bantuan Hukum Di Indonesia. Pada sesi ini pemateri memberikan pemahaman tentang dasar hukum dari bantuan hukum, yaitu lewat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum. Selain itu juga pemateri juga memberikan pengetahuan tentang sejarah bantuan hukum di Indonesia. Pada akhir sesi pemeteri meminta peserta pelatihan untuk memberikan masukkan terkait bantuan hukum di Indonesia agar berjalan dengan baik dan sesuai harapan. Setelah memberikan masukkan peserta diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan pemateri melalui diskusi tanya jawab.

Pada hari kedua pelaksanaan pelatihan ini di sesi pertama di isi oleh Direktur LBH Masyarakat Bapak Ricky Gunawan. Dalam materi pemateri membawakan materi tentang Hukum Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional, dalam sesi awal pemateri memberikan pengetahuan tentang Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) sebuah instrument hukum internasional mengenai hak-hak dasar manusia di dunia dan akhir sesi pemateri juga memberika kesempatan kepada peserta untuk bertanya mengenai materi yang telah diberikan agar ada diskusi yang menarik dan menambah pengetahuan peserta.

Pada sesi kedua materi di disi oleh Bapak Dr. Ahmad Sofian S.H, M.A yang merupakan Konsultan Nasional dari ECPAT Indonesia yang juga seorang dosen di business law Universitas Bina Nusantara. Dalam sesi ini pemateri memberikan materi tentang Situasi ESKA di dunia Internasional dan Indonesia, Pengertian, Bentuk-bentuk eksploitasi seksual, perbedaan ESKA dengan kekerasan seksual, di kesempatan ini pemateri memberikan dasar-dasar pengetahuan tentang isu ESKA, situasi dan juga perbedaan antara ESKA dan Kekerasan seksual. Selain itu juga pemateri memberikan pengetahuan tentang dasar-dasar hukum yang berkaitan dengan ESKA agar para peserta mengerti dan paham mengenai, apa itu ESKA dan bentuk-bentuknya. Di akhir sesi pemateri juga memberika kesempatan bagi para peserta untuk ber tanya jawab mengenai materi yang telah disampaikan oleh pemateri. Lalu pemateri juga memberika tugas bagi para peserta berupa pertanyaan yang hasilnya dipresentasikan setelah selesai melalui kelompoknya masing-masing.

Pada sesi yang ke tiga di isi oleh Direktur LBH APIK Ibu Ratna Batara Munti yang memberikan materi tentang Kekerasan terhadap Anak yang menjadi korban ESKA dalam Perspektif Gender. Pada awal sesi para peserta di ajak untuk menonton film tentang kesetaraan dan keadilan gender, dan setelah film tersebut selesai pemateri mengajukan pertanyaan kepada peserta tentang maksud dari film tersebut. Setelah diskusi tentang film tersebut pemateri memberikan materi tentang perspektif gender, yang dimana dimasyarakat Indonesia pemahaman perspektif gendernya masih dirasa kurang dengan menjadikan perempuan sebagai objek dari diskriminasi. Disesi ini pemateri juga memberikan pengetahuan tentang Bantuan Hukum Struktural yang digunakan oleh LBH APIK dalam mendampingi korban-korban KDRT dan juga korban kekerasan terhadapa perempuan dan anak. Sesi di tutup dengan tanya jawab terkait dengan materi yang dibawakan oleh pemateri.

Pada hari ke tiga di sesi yang pertama di isi oleh Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Mabes Polri yaitu Ibu Rita W Wibowo. Dalam sesi ini pemateri memberikan matri tentang Penegakan Hukum khusus kasus ESKA pada proses peradilan (kepolisian), Pemateri menjelaskan bagaimana kepolisian menangani kasus-kasus ESKA yang selam ini terjadi di Indonesia. Dari banyak kasus yang terjadi Kepolisian Republik Indonesia juga tidak bekerja sendiri dalam menangani kasus-kasus ESKA yang terjadi, tapi mereka juga bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi, Kementerian Perberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Sosial dan juga lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah untuk bersama-sama membantu meyelesaikan kasus-kasus ESKA. Pemateri juga memberikan pengetahuan tentang modus-modus dari para pelaku ESKA dalam mejebak korbannya dan selain itu juga pemateri menjelaskan terkait Undang-Undang yang digunakan unutk menjerat pelaku ESKA. Diakhir sesi pemateri memberika kesempatan untuk peserta bertanya dan berdiskusi terkait materi yang diberikannnya.

Pada sesi kedua materi di isi oleh Ibu Dr. Lies Sulistiani S.H, M.Hum dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Ibu Lies merupakan salah satu Komisioner dari LPSK. Dalam sesi ini pemateri memberikan materi tentang, Peran Lembga Perlindungan Saksi dan Korban dalam memberikan Perlindungan dan mendapatkan hak-hak korban. Dalam sesi ini pemateri memberikan pengetahuan tentang lembaga LPSK kepada peserta dan juga menceritakan sejarah terbentuknya LPSK, selain itu pemateri juga memberikan informasi tentang pengalam LPSK dalam menydiakan bantuan bantuan bagi korban-korban ESKA yang melaporkan dan meminta perlindungan kepada LPSK. Pemateri juga memberitahukan hak-hak dari seorang saksi dan korban yang menjadi korban suatu tindak pidana. Pemateri juga memberitahukan tentang adanya Restitusi yaitu gantu rugi dari pihak pelaku kepada tindak pidana. Pada akhir sesi pemateri memberikan kesempatan bagi peserta unutk bertanya tentang materi yang diberikan.

Pada sesi ketiga materi di isi oleh Ermelina Singereta selaku Kordinator divisi Pelayanan Hukum dan Advokasi ECPAT Indonesia, materi yang dibawakan oleh pemateri adalah tentang Strategi Litigasi dalam Penanganan Kasus dan Hak ESKA dalam proses peradilan (penyelidikan dan penyidikan). Pada sesi ini pemateri memberikan pengetahuan tentang proses pendampingan hukum dalam kasus-kasus ESKA, pemateri juga memberitahukan terkait dasar hukum yang menjadi alasan perlunya pendampingan hukum dalam sebuah kasus pidana. Disesi ini peserta juga diberikan pengetahuan tentang strategi dalam mendampingi kasus-kasus ESKA dan bagaimana berkordiansi dengan Aparat pengak hukum, masyarakat dan juga komunitas yang ada disekitar korban untuk dapat membantu menyelesaikan kasus yang dihadapi oleh korban agar mendapatkan keadilan yang diinginkan. Pada sesi ini pemateri juga memberikan tugas kelompok bagi para peserta agar para peserta bisa berdiskusi dan memecahkan masalah dari sebuah kasus yang dihadapi. Setelah tugas kelompok selesai para peserta wajib untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dan diakhiri dengan tanya jawab dari setiap hasil presentasi kelompok yang dilakukan.

Pada hari ke empat atau hari terakhir pada sesi pertama di isi oleh peneliti dari LBH PERS yakni Fahri Wahyudi, dalam materinya pemateri berbagi informasi tentang apa itu pers, apa saja tugas dari pers, dll. Selain itu juga pemateri juga memberitahukan tentang dasar hukum bagi pers, dan perlindungan bagi para pekerja pers menurut undang-undang, pemateri juga menginformasikan bahwa dewan pers telah bekerjasama dengan Mabes Polri dalam unutk perlindungan bagi para pekerja pers. Setelah pemateri selesai memberikan materinya, pemateri mempersilahkan bagi para peserta untuk bertanya danberdiskusi dengan pemateri tentang isi materi yang disampaikan oleh pemateri, dan setelah sesi tanya jawab ada tugas kelompok yang diberikan oleh pemateri, kelompok dibagi 3 dan hasil dari diskusi kelompoknya dipresentasikan oleh masing-masing kelompok.

Pada sesi ke dua di isi oleh Direktur Yayasan Bandungwangi Ibu Endang, pada sesi ini pemateri mengisi sesi dengan menceritakan pengalaman beliau saat remaja yang menjadi korban perdagangan orang untuk tujuan seksual. Beliau juga berharap bahwa kisahnya bisa menjadi bahan pelajaran bagi para peserta dan juga mengingatkan kepada para peserta untuk lebih peduli dengan para anak-anak yang menjadi korban ESKA dan berharap supaya anak-anak di Indonesia tidak ada lagi yang menjadi korban ESKA. Pada sesi terakhir pemateri membuka kesempatan bertanya untuk para peserta dan diskusi agar sesi menjadi lebih menarik.

Pada sesi ke tiga atau pada sesi terakhir, sesi ini di isi oleh Ermelina Singereta dari ECPAT Indonesia dengan menyampaikan materi tentang, Teknik dan fungsi investigasi dan dokumentasi dalam kerja-kerja advokasi tentang ESKA. Pada sesi ini pemateri memberikan materi yang berkaitan dengan advokasi penanganan kasus-kasus ESKA, bagaimana melakukan investigasi terhadap kasus-kasus ESKA dan apa saja yang diperlukan dalam pendokumentasian kasus-kasus ESKA. Di sesi ini peserta diberikan tugas secara kelompok dengan masing-masing materi yang diberikan dan hasil dari kerja kelompok ini di presentasikan oleh masing-masing kelompok pada akhir sesi.

Pada akhir pelatihan ini masing-masing peserta diberikan post test untuk mengetahui progress dari pada pelatihan ini terhadap peserta, karena pada awal pelatihan peserta juga diberikan pre test agar ECPAT Indonesia dapat mengukur dampak dari pelatihan ini. Sebelum pelatihan ini ditutup ECPAT Indonesia bersama dengan Universitas Bina Nusantara memberikan souvenir bagi para peserta yang aktif dan yang bersemangat pada pelatihan ini, dan terpilihlah 4 orang yang terdiri dari 2 alaki-laki dan 2 perempuan sebagai peaserta teraktif dan  yang bersemangat dalam pelatihan ini, dan penyerahn souvenir pun dibagikan oleh perwakilan dari Universitas Bina Nusantara dan ECPAT Indonesia.

Pada akhir acara Bapak Dr. Shidarta S.H, M.Hum memberikan kata penutup pada pelatihan ini, dalam kata penutupnya beliau sangat senag sekali bisa bekerjasama dengan ECPAT Indonesia dalam melaksanakan pelatihan ini karena menurutnya pelatihan ini sangat diperlukan untuk meningkat kemampuan para mahasiswa khususnya mahasiswa jurusan ilmu hukum untuk memperdalam keahlian dalam mengenal dan menganalisa sebuah kasus pidana. Pada kata terakhirnya pak Shidarta juga berharap bahwa pelatihan ini bisa terus dilaksanakan agar mahasiswa memahami setiap kasus-kasus pidana pada anak yang terjadi khususnya kasus-kasus ESKA dan berharap agar para mahasiswa mempunyai jiwa sosial yang tinggi dengan mendedikasikan ilmunya untuk menolong orang-orang atau anak-anak yang menjadi korban ESKA.

Penulis :

Rio Hendra

( Staff Pelayanan Hukum )

ECPAT IndonesiaPelatihan Gerakan Bantuan Hukum Untuk Menciptakan Keadilan Bagi “ESKA” (Eksploitasi Seksual Komersial Anak)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *