Pelatihan Kedua tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan dan Eksploitasi Seksual Anak di Daerah Tujuan Wisata

BeritaKomentar

Pelatihan Tematik

Pelatihan Kedua “Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan dan Eksploitasi Seksual Anak di Daerah Tujuan Wisata” hasil kerja sama ECPAT Indonesia dan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dilaksanakan pada tanggal 12-13 September 2017 di Depok. Pelatihan ini merupakan satu rangkaian dengan “Pelatihan Tematik Perlindungan Anak Bagi Fasilitator PATBM Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota”

Pelatihan yang bersifat nasional ini diikuti oleh 130 orang peserta dari Dinas PP dan PSW yang berasal dari 18 propinsi. Adapun propinsi-propinsi tersebut diantaranya; Papua, Papua Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi tengah, Bali, NTB, NTT, Jawa Timur, DKI Jakarta, Jambi

Acara pelatihan dibuka oleh Ibu Rini Handayani Asdep Perlindungan Anak Kekerasan dan Eksploitasi, dalam presentasinya Ibu Rini menyampaikan akan pentingnya Lokal Wisdom bagi upaya perlindungan anak, pentingnya pelibatan private sector dalam upaya perlindungan anak didaerah wisata, pentingnya menghimbau agar Wisatawan asing menghormati budaya dan adat masyarakat local.

Dalam pelatihan tersebut difasilitasi oleh fasilitator dari ECPAT Indonesia, diantaranya Bapak Ahmad Sofyan, Direktur ECPAT Indonesia yang pada kesempatan tersebut menyampaikan materi hak anak dan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA), ciri-ciri pelaku kekerasan ESKA dan kekerasan terhadap anak lainnya. Dalam memfasilitasi pelatihan tersebut dibantu oleh co-fasilitator Andy Ardian dan Umi Farida

Adapun Catatan penting dari hasil studi kasus dalam pelatihan tersebut, antara lain:

  1. Perlu mendetailkan kasus yang ada karena dalam satu kasus terkadang terdapat beberapa kasus (irisan) lainnya misalnya (1) kasus perkawinan ternyata ada eksploitasi anak sebagai pekerja/buruh, (2) pada kasus ESKA terdapat kasus trafficking anak, kasus pornografi, kekerasan seksual anak.
  2. Perlu meng-high light (1) prefentif, (2) kuratif, (3) rehabilitative, diantaranya:
  • Kebijakan pemerintah pro anak di level pemerintah daerah dan desa
  • Mengawasi dan memonitoring perijinan industri wisata
  • Pelibatan privat sektor dalam gerakan perlindungan anak
  • Berjejaring dan kerjasama antar stakeholder
  • Sosialisasi dan penyadaran pada orang tua dan masyarakat
  • Melibatkan lembaga-lembaga yang fokus pada perlindungan anak seperti (Forum anak, RPTRA, PATBM, dll)
  • Proses pendampingan korban
  • Pelibatan paralegal
  • Sidak kasus
  • Mediasi dengan menggunakan local wisdom untuk memberikan perlindungan anak
  • Reintegrasi korban

Penulis :

Umi Farida

ECPAT IndonesiaPelatihan Kedua tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan dan Eksploitasi Seksual Anak di Daerah Tujuan Wisata

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *