Pelatihan Pencegahan Eksploitasi Seksual Anak Secara Online – Tanjung Pinang, Kepulauan Riau

BeritaKomentar

Tanjung Pinang, Kepulauan Riau –  18-19 Juli 2018 – ECPAT Indonesia bekerjasama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) serta google Indonesia melaksanakan “Training Pencegahan Eksploitasi Seksual Anak Secara Online untuk Organisasi Perlindungan Anak dan Komunitas” di Tanjung Pinang Kepulauan Riau.

Pada acara tersebut dibuka dengan dua sambutan, sambutan pertama oleh ECPAT Indonesia, yang diwakili oleh Andy Ardian, Andy menjelaskan bahwa program Tem@n Anak (Internet Aman untuk Anak) yang dilakukan di 5 kota, diantaranya “Jakarta, Berau, Makasar, Kupang, Bandung, Kepulauan Riau, kedepan di Sulawesi Utara dan Samarinda”. Tujuannya dari pelatihan ini adalah untuk membangun masyarakat serta mengedukasi masyarakat agar mampu mengajak masyarakat lainnya terkait dengan perkembangan digital, memiliki kepedulian terhadap perlindungan anak, aktif dan memiliki perhatian ke dunia IT untuk peduli pada perlindungan anak.

Sambutan kedua oleh kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Kepulauan Riau, yaitu Ibu Misni SKM,  M.Si. Dalam sambutannya beliau menyampaikan perkembangan sosial masyarakat yang berubah dimana saat ini kebutuhan pokok manusia salah satunya adalah kebutuhan internet. Internet berdampak positif dan ada yang berdampak negatif seperti game online. Kepala Dinas DP3AP2KB menyampaikan saat ini warnet di bintan ada 300 warnet yang memperoleh ijin dari walikota.   Dapat negatif lainnya yaitu internet memudahkan untuk mengakses pornografi dan prostitusi, game yang mengandung unsur pornografi, selain itu Cyber crime juga menjadi trend. Berdasarkan hal itu maka para pengguna internet harus dewasa dan hati-hati dalam menggunakan internet sebab jejak digital kita akan tertinggal, berhati-hati dalam mengupload photo dan lain-lain. Kepala Dinas menutup sambutan dengan membuka acara training pencegahan eksploitasi seksual anak secara online yang kemudian dilanjutkan dengan foto bersama dengan peserta training.

Setelah sesi pembukaan selesai, peserta diajak berkenalan dengan game mengurutkan nama, untuk itu peserta dibagi menjadi 4 kelompok, dalam permainan ini peserta diajak mengurutkan nama berdasarkan alpabet, setelah itu peserta diminta mengurutkan umur (tanggal lahir) semakin kedepan semakin muda. Pelajaran dari permainan ini adalah peserta diajak lebih teliti dan fokus serta berkonsentrasi selama sesi berlangsung.

Setelah sesi perkenalan, acara kemudian masuk pada sesi materi yaitu Eksploitasi Seksual Anak Online, yang dinarasumberi oleh Andy Ardian dari ECPAT Indonesia, Andy menjelaskan bentuk-bentuk Eksploitasi Seksual Anak Online, diantaranya (1) Grooming online untuk tujuan seksual adalah sebuah proses untuk menjalin atau membangun sebuah hubungan dengan seorang anak melalui penggunaan internet atau tekhnologi digital lain untuk memfasilitasi. (2) Sexting yaitu pembuatan gambar seksual sendiri, atau penciptaan, pembagian, dan penerusan gambar telanjang atau nyaris telanjang yang menggoda secara seksual melalui telepon genggam dan/atau internet. (3) Pemerasan Seksual yaitu ancaman penyebaran materi photo atau video korban (yang dibuat sendiri) dengan harapan mendapatkan imbalan seks, uang atau keuntungan lain dari korban. (4) Siaran Langsung kekerasan seksual pada anak yaitu permintaan untuk live di internet dalam posisi telanjang atau melakukan aktifitas seksual yang merupakan paksaan terhadap seorang anak untuk orang lain yang jaraknya jauh.

Setelah sesi Eksploitasi Seksual Anak Online dilanjutkan dengan sesi digital parenting yang disampaikan oleh Umi Farida dari ECPAT Indonesia, dimana peserta sebagai orang tua diajak menggunakan langkah-langkah yang bijaksana dalam mengawasi dan mendampingi anak dalam bermain internet, diantranya: (1) Berbicara dengan anak, (2) meningkatkan pengetahuan diri sendiri, (3) menggunakan parental control, (4) Membuat aturan dan terapkan disiplin, (5) berteman dengan anak di online, (6) jelajahi, berbagi dan rayakan bersama anak, (7) orang tua menjadi role model yang baik

Pada hari kedua tanggal 19 Juli dilanjutkan dengan dibuka oleh review materi hari pertama oleh peserta kemudian dilanjutkan Eksploitasi Seksual Anak Online dalam perspektif hukum yang disampaikan oleh bapak Ahmad Sofian Koordinator ECPAT Indonesia, dengan kerja kelompok mengidentifikasi dan menganalisis kasus. Sesi kemudian dilanjutkan dengan Literasi Digital oleh Andy Ardian, dan dilanjutkan dengan evaluasi dan rencana tindak lanjut.

Penulis :

Umi Farida

ECPAT IndonesiaPelatihan Pencegahan Eksploitasi Seksual Anak Secara Online – Tanjung Pinang, Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *