Peluncuran dan Konfrensi Pers Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan Tahun 2018

BeritaKomentar

Rabu, 7 Maret 2018 – ECPAT Indonesia menghadiri Catatan Akhir Tahun (CATAHU) Komisi Nasional Hak Asasi Perempuan (Komnas Perempuan), acara ini dilaksanakan di Aula Kantor Komnas Perempuan jalan Latuharhari Jakarta Pusat. Pada CATAHU tahun 2018 ini Komnas Perempuan mengambil tema “Tergerusnya Ruang Aman Perempuan Dalam Pusaran Politik Populisme”.

Komnas Perempuan mencatat sebanyak 2.979 kasus kekerasan seksual dan 911 diantaranya adalah kekerasan seksual terhadap anak.[1] Selain itu Komnas Perempuan juga mendapatkan pengaduan 65 kasus kekerasan terhadap perempuan yang berbasis siber. Kejahatan siber dengan korban perempuan seringkali berhubungan dengan tubuh perempuan yang dijadikan obyek pornografi. Bentuknya cukup beragam diantaranya cyber grooming/pendekatan untuk memperdaya (1 kasus), cyber harassment/pengiriman teks untuk menyakiti/menakuti/mengancam/mengganggu (20 kasus), backing/pemerasan (4 kasus), illegal content (16 kasus), infringement privacy/pelanggaran privasi (4 kasus), malicious distribution/ancaman distribusi foto atau video pribadi (19 kasus), online defamation/penghinaan atau pencemaran nama baik (6 kasus), rekrutmen online (21 kasus)

Kasus-kasus kekerasan seksual pada anak dan kasus kekerasan terhadap perempuan berbasis siber bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa memandang latar belakang pendidikan dan tingkat ekonomi dari pelaku. Menurut temuan CATAHU Komnas Perempuan para pelaku kekerasan terhadap perempuan dan eksploitasi seksual pada anak diantaranya terdiri dari teman, tetangga, atasan kerja, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, orang lain dan orang yang tidak dikenal.

Temuan Komnas Perempuan sinergis dengan temuan ECPAT Indonesia, dimana dalam assessment yang dilakukan oleh ECPAT Indonesia di 6 Kabupaten/Kota, yaitu Kabupaten Gunung Kidul, Karangasem, Garut, Toba Samosir, Bukit Tinggi dan Nias Selatan bekerjasama dengan KPPPA. Hasilnya semua Kabupaten/Kota yang menjadi target assessment rentan terjadi kasus hubungan seks anak dengan anak karena terpapar pornografi, sementara itu di Garut, Karang Asem, Gunung Kidul, Nias Selatan dan Kota Bukit Tinggi ditemukan kerentanan anak terpapar pornografi melalui smartphone dan warnet.

Berdasarkan pada temuan Komnas Perempuan dan juga ECPAT Indonesia, dapat disimpulkan bahwa saat ini kerentanan anak mengalami kekerasan dan eksploitasi seksual komersial di internet dalam situasi genting. Karena jumlah kasusnya semakin hari semakin bertambah sehingga dibutuhkan upaya dan penanganan yang komprehensif.

Bagi ECPAT Indonesia dua temuan Komnas Perempuan tersebut bermakna penting bagi kerja-kerja ECPAT Indonesia, dimana dengan adanya temuan Komnas Perempuan semakin meneguhkan komitmen ECPAT Indonesia untuk terus berusaha menghapuskan segala bentuk kekerasan dan eksploitasi seksual komersial anak.

[1] Komisi Nasional Perempuan (KOMNAS Perempuan), “Catatan Akhir Tahun 2017 Komisi Nasional Perempuan”, 7 Maret 2018

 

Penulis : Umi Farida (Asisten Program Manager)

ECPAT IndonesiaPeluncuran dan Konfrensi Pers Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan Tahun 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *