Penanganan Eksploitasi Anak diranah Daring

BeritaKomentar

ECPAT Indonesia tergabung dalam ID-COP bersama dengan Siberkreasi, terlibat dalam penyelenggaraan acara Siberkreasi Netizen Fair 2018 yang diadakan di Gelora Bung Karno Senayan, pada tanggal 24 November 2018. ECPAT Indonesia bersama jaringan yang selama ini fokus pada perlindungan anak khususnya pada isu internet aman bagi anak yaitu Yayasan Sejiwa dan ICT Watch mendapat kesempatan untuk memaparkan materi tentang “ Penanganan Eksploitasi Anak di Ranah Daring”.

Dalam kesempatan itu, ECPAT mengisi materi untuk anak SMA dari Depok sekitar 70-80 orang. Presentasi ECPAT Indonesia, dimulai dengan memaparkan definisi eksploitasi seksual anak online, kemudian sharing data kasus ECPAT Indonesia tahun 2016-2017 yaitu, dari jumlah total korban eksploitasi seksual anak sebanyak 504 kasus, 206 korban protitusi anak online dan 184 korban materi yang menampilkan eksploitasi atau kekerasan seksual pada anak.

Bentuk-Bentuk dari Eksploitasi Seksual Anak diranah online, diantaranya (1) Grooming online untuk tujuan seksual adalah sebuah proses untuk menjalin atau membangun sebuah hubungan dengan seorang anak melalui penggunaan Internet atau teknologi digital lain dengan maksud untuk memancing, memanipulasi atau menghasut anak agar anak bersedia melakukan kegiatan seksual. (2) Sexting yaitu proses seorang anak secara intens mengirimkan pesan seksual secara eksplisit atau gambar yang menunjukkan sisi seksualitas dari dirinya. Gambar atau video yang dikirimkan ini bisa berupa tampilan (semi- telanjang), erotis, dan atau aktivitas seksual dan biasanya dibagikan kepada pacar atau teman dekat. (3) Pemerasan Seksual (Sextortion) yaitu proses dimana seseorang dipaksa untuk memberikan imbalan seks, uang dan barang berharga lain atau memproduksi materi seksual. (4) Siaran Langsung kekerasan seksual pada anak yaitu terjadi ketika seorang anak dipaksa untuk tampil di depan kamera atau webcam untuk melakukan aktivitas seksual atau menjadi subjek dari kekerasan seksual. Aktivitas ini kemudian dibuat siaran langsungnya melalui internet kepada para pelanggan yang berbayar (pelaku/predator seks) yang menonton dan atau meminta bagaimana tindakan kekerasan tersebut dilakukan melalui webcam. (5) Child Sexual Abuse Material (CSAM), dalam terjemahan bahasa Indonesia CSAM berarti materi yang mengandung muatan kekerasan seksual terhadap anak. Adapun definisi CSAM adalah setiap perwujudan melalui sarana apapun, seorang anak terlibat dalam situasi nyata atau disimulasikan secara eksplisit melakukan aktifitas seksual atau perwujudan lain dari organ seks anak, utamanya untuk tujuan seksual.

Pada sesi tanya jawab salah satu peserta yaitu seorang Guru SMA menanyakan tentang bagaimana ciri-ciri anak yang mengalami eksploitasi seksual online? Adapun ciri-ciri anak menjadi korban kekerasan seksual, diantaranya anak menghindari orang tertentu, anak bersikeras menghindar dari orang tertentu tanpa alasan yang jelas. Seperti, takut ke sekolah, tak lagi berteman dll. Sering menangis tanpa alasan, anak bisa menjadi lebih rewel dibanding biasanya. Tubuh memar, memar merupakan tanda kekerasan yang mudah dikenali. Perilaku mendadak berubah, anak yang tadinya ceria, lemah lembut, kemudian berubah menjadi pemarah, tidak peduli, agresivitas. Gejala aneh, anak mengalami perubahan kebiasaan, seperti susah tidur, hilang napsu makan, hingga menjadi terlalu protektif terhadap anak-anak di sekitarnya. Anak menjadi penyendiri, karena kekerasan bisa membuat anak menjadi lebih takut bertemu orang lain. Nyeri saat berjalan, mengalami pendarahan, alat kelamin terasa gatal dan memar. Akrab dengan informasi seksual, anak menjadi sangat akrab dengan informasi seksual untuk orang dewasa, muncul rasa ingin tahu yang melampaui usia mereka. Anak selalu waspada, terlihat ketakutan dan cemas tentang sesuatu hal buruk yang akan terjadi.

Penulis : Umi Farida

ECPAT IndonesiaPenanganan Eksploitasi Anak diranah Daring

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *