Penelitian Evaluasi Layanan Rehabilitasi Sosial: Pengumpulan Data di NTB

BeritaKomentar

ECPAT Indonesia bersama Kementerian Sosial Republik Indonesia mengadakan penelitian kerja sama dengan judul “Evaluasi Layanan Rehabilitasi Sosial bagi Anak yang Menjadi Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak”. Penelitian ini merupakan tindak lanjut dari penelitian sebelumnya yang berjudul “Faktor-Faktor Yang Mendorong Anak Melakukan Kekerasan Seksual Terhadap Anak”.

Salah satu permasalahan yang ditemukan pada penelitian sebelumnya adalah belum tersedianya model rehabilitasi bagi anak yang menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Hal ini menyebabkan potensi anak melakukan kekerasan seksual lagi di kemudian hari sangat rentan terjadi. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan. Penelitian ini dilaksanakan di lima wilayah, yaitu di Magelang, Surabaya, Bandung, Makassar dan Mataram. Dari lima tempat tersebut, NTB menjadi lokasi ketiga yang dikunjungi di dalam proses penelitian ini bersamaan dengan Makassar dan Bandung.

Penelitian di NTB dimulai dengan mengunjungi PSMP Mataram. Di PSMP Mataram, peneliti bertemu dengan para pengurus panti dan juga anak-anak yang saat ini sedang menjalani proses rehabilitasi sosial. Atas izin kepala panti, peneliti bersama tim dari Kementerian Sosial melakukan wawancara dengan pertanyaan terstruktur dan juga melakukan wawancara mendalam kepada petugas di panti dan juga anak-anak.

Selain mengunjungi PSMP Mataram, penelitian ini juga mengunjungi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). LPKA ini berada di bawah tanggung jawab Kementerian Hukum dan HAM. Oleh karena itu, sebelumnya tim peneliti melakukan audensi terlebih dahulu dengan pihak Kantor Wilayah Kemenkumham di wilayah NTB. Saat di LPKA, peneliti juga melakukan wawancara dengan anak-anak yang sedang menjalani proses putusan pengadilan, serta para petugas yang sehari-hari melakukan proses pembinaan terhadap anak-anak.

Secara umum, temuan yang terdapat di NTB juga serupa dengan temuan di Surabaya. Hingga saat ini, LPKA juga tidak memiliki panduan ataupun arahan dalam membina anak-anak yang menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Sehingga, proses penanganan yang dilakukan kepada anak-anak diperlakukan sama dengan anak-anak yang melakukan pelanggaran pidana lainnya seperti pencurian, perampasan, hingga pembunuhan. Berdasarkan pemaparan dari para pembina, mereka juga menyadari bahwa anak-anak tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan anak-anak dengan kasus kriminalitas lainnya. Para pembina mengatakan idealnya terdapat pembinaan khusus bagi mereka. Namun, hinggas saat ini, belum ada arahan lebih jauh dari pihak Kementerian Hukum dan HAM.

Setelah melakukan pengumpulan data di NTB, tim peneliti juga menuliskan laporan awal yang nantinya akan menjadi bahan diskusi dalam proses pengolahan dan analisis data.

Penulis : Deden Ramadani (Koordinator Data dan Riset)

ECPAT IndonesiaPenelitian Evaluasi Layanan Rehabilitasi Sosial: Pengumpulan Data di NTB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *