Penelitian Getting to Good Human Trafficking Data-Everyday Guidelines for Frontline Practitioners in Southeast Asia

BeritaKomentar

29 Maret 2018 – ECPAT Indonesia menghadiri Diskusi tentang presentasi hasil penelitian yaitu “Getting to Good Human Trafficking Data-Everiday Guidelines for Frontline Practitioners in Southeast Asia” di Hotel Le Meridien yang diselenggarakan oleh Human Rights Resource Center. Dalam diskusi itu menghadirkan keynote speaker Bapak Dir Leocadio Trovela dari Filipina, Ia mengulas tentang kriteria data yang kredibel membutuhkan pelatihan investigasi pada polisi dan aparat penegak hukum lainnya.

Dalam diskusi tersebut dimulai dengan sesi pemaparan dari peneliti Jessie Brunner, dalam paparannya Ia menyampaikan bahwa terdapat 7 prinsip dalam menyusun data kasus trafficking, diantaranya (1) data trafficking adalah penting dan sangat berarti, (2) Tidak semua data dibuat dengan berimbang, (3) Anda memiliki peran utama dalam merumuskan dan mengumpulkan data yang dimiliki oleh lembaga anda, (4) Kritis dan kreatif menjadi pengguna data, (5) Data harus dilihat sebagai aset namun bukan sebagai sebuah beban, (6) Data digital memberi arti penting dan strategis, karena mampu menciptakan kesempatan dan juga tantangan, (7) Kolaborasi adalah kunci, tetapi kepercayaan dan perhatian adalah lebih penting. Ia juga menyampaikan bahwa data yang bisa dipertanggungjawabkan keakurasiannya memiliki kriteria sebagai berikut: valid, akurat, relevan, reliable, imparsial, dapat diakses dengan mudah, aktual, bertanggungjawab, bersifat memberdayakan.

Sementara masukan dari Panelis yaitu H.E. Ms. Yuyum Fhahni Paryani yaitu tentang kode etik dalam menyusun data bagi kasus yang melibatkan anak, diantaranya dibutuhkan (1) Partisipatif pada hak anak dengan menjelaskan tujuan wawancara atau melibatkan anak, (2) Ketika data harus menggunakan photo atau gambar anak maka keberadaan anak harus dilindungi (melalui blur atau tidak memposisikan anak sebagai obyek), (3) Menjaga kerahasiaan korban.

Sementara dari perwakilan kepolisian Indonesia menyampaikan beberapa kelemahan mekanisme pendataan kasus trafficking, yaitu (1) Lemahnya sistem pendataan kasus perdagangan anak untuk tujuan seksual di suatu negara juga termasuk antar negara, (2) Data belum disusun secara holistik dengan sistem dan indikator yang antar negara, (3) Data belum difungsikan sebagai strategi pencegahan, (4) Data belum bisa dioperasionalkan oleh seluruh pengguna data (misalnya aparat penegak hukum), (5) Masing-masing negara (antar negara) belum membangun jaringan data pelaku Eksploitasi Seksual Komersial Anak, (6) Sistem hukum di masing-masing negara kadang memiliki perbedaan sehingga berdampak pada sulitnya mengungkap jaringan perdagangan anak untuk tujuan seksual.

ECPAT IndonesiaPenelitian Getting to Good Human Trafficking Data-Everyday Guidelines for Frontline Practitioners in Southeast Asia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *