Sosialisasi Gerakan Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona di Ubud Dalam Melindungi Anak Dari Dampak Negatif Wisata

BeritaKomentar

sapta pesona 17 nov 2017 ubud bali

Ubud, 17 November 2017 Kementerian Pariwisata Republik Indonesia melakukan sosialisasi sadar wisata dan SAPTA PESONA di kabupaten gianyar Ubud Bali, bertempat di villa alam puisi. Kegiatan ini dilakukan selama 3 hari dengan peserta sebanyak 100 orang yang terdiri dari pengelola homestay, restoran, penginapan, tokoh masyarakat, tokoh agama, aparatur kecamatan dan desa serta kelompok sadar wisata (pokdarwis). Kegiatan ini dilakukan untuk menumbuhkan gerakan sadar wisata dan aksi SAPTA Pesona untuk menjadikan bali sebagai tuan rumah yang baik bagi wisatawan. Oktober 2018 bali akan menjadi annual meetting IMF 2018 yang akan dihadiri 15000 orang dari 180 negara. Ubud akan menjadi destinasi utama yang akan di tawarkan dalam moment IMF 2018 tersebut.

Dalam mempersiapkan even international tersebut Kementerian Pariwisata yang diwakili ibu Romi Astuti selaku kasubdit internalisasi Sadar Wisata menyampaikan kata sambutan bahwa even ini akan mencerminkan dunia wisata indonesia di mata dunia, untuk itu kita harus mempersiapkan diri baik dari sarana prasarana dan juga kesiapan masyarakat di bali. Selain potensi pemasukan ekonomi dari even internasional ini kita juga harus bersiap mencegah dampak negatif yang bisa saja terjadi, seperti narkoba, HIV Aids dan eksploitasi seksual anak yang bisa saja terjadi saat itu.

Kegiatan ini di buka oleh Bapak kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar bapak Anak Agung Bagus Ari Brahmanta, SE yang menghimbai peserta bahwa kita perlu mempersiapkan diri, menjaga kebersihan termasuk toilet, meningkatkan standar-standar pertunjukan agar lebih profesional. Prinsip dasar sapta pesona perlu diinternalisasi. kadis menghimbau kepada desa untuk menjaga keamanan dan juga menjaga perlindungan anak di ubud agar tidak terjadi kenakalan remaja, pemakai narkoba.

Kegiatan di hari ketiga Kepala Dinas Pariwisata Provinsi di Bali bapak Anak Agung Gede Yuniartha Putra, SH.MH juga menyampaikan tentang rencana pemerintah menjadi tuan rumah dalam annual meeting IMF 2018 dan bagiamana bali harus bersaing dengan banyaknya tempat wisata di dunia, bahkan saat ini dengan pengembangan 10 bali lain di indonesia, bali tetap harus bisa menjadi tempat wisata yang menawarkan kepariwisataan terbaik. Selain itu kementerian Pariwisata juga mensosialisasikan dampak-dampak negatif yang bisa muncul di sektor wisata, diantaranya tentang eksploitasi seksual anak di destinasi tujuan wisata, narkoba dan HIV Aids dengan menghadirkan pembicara yang kompeten. Diantaranya narasumber dari aliansi Down to Zero yang diwakili oleh Andy Ardian dari ECPAT Indonesia.

Perkembangan dunia wisata biasanya akan diikuti oleh bayang-bayang gelap dunia prostitusi ataupun eksploitasi seksual, dalam situasi ini anak-anak seringkali dijadikan target atau korban dari tindak kejahatan yang terjadi oleh pelaku-pelaku yang datang ke Bali untuk berwisata, namun memanfaatkan fasilitasi wisata untuk melakukan kejahatannya, hal ini yang harus di waspadai oleh para penggiat wisata agar tidak terjadi di Bali yang bisa merusak masa depan anak-anak di bali dan merusak citra pariwisata bali kata andy dalam paparannya.

Salah satu peserta kelompok sadar wisata yang juga merupakan fasilitator anak di daerah gianyar menyampaikan tentang perlindungan anak seperti apa yang harus dilakukan bila menemukan situasi anak-anak yang bermasalah atau di eksploitasi, sebab situasi seperti ini tentunya membutuhkan bantuan dari semua pihak dan peran aktif pemerintah sebagai leading sektor yang harus melakukkan respon. Tercatat data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak provinsi Bali di januari-juni  2017 ditemukan sebanyak 274 kasus kekerasan anak yang tercatat, terdiri dari  kekerasan fisik 84 kasus, kekerasan psikis 47 kasus, kekerasan seksual 55 kasus, penelantaran 21 kasus, dan lainnya 82 kasus.

 

ECPAT IndonesiaSosialisasi Gerakan Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona di Ubud Dalam Melindungi Anak Dari Dampak Negatif Wisata

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *