Trusted Flagger Summit di Google Asia Pasifik

BeritaKomentar

Pada tanggal 3 Mei 2018, ECPAT Indonesia terlibat dalam pertemuan “Trusted Flagger Summit” yang diselenggarakan oleh Google Asia Pasifik, Singapura. Pertemuan ini merupakan pertemuan pertama di dunia yang mengumpulkan trusted flagger dari berbagai negara.

Trusted flagger adalah program yang dikembangkan oleh Youtube untuk membantu menyediakan fitur andal yang berguna bagi individu, lembaga pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam memberitahukan konten yang melanggar panduan komunitas kepada Youtube. Terdapat empat lembaga yang saat ini menjadi trusted flagger di Indonesia, yaitu ECPAT Indonesia, ICT Watch, Wahid Foundation dan Mafindo.

Dalam sambutannya, perwakilan dari Trust dan Safety di Google Singapore mengapresiasi kerja dari para trusted flagger selama ini. Indonesia juga menjadi penting karena termasuk ke dalam 10 besar pelapor yang konten pelaporannya sesuai. Mereka berharap pertemuan ini dapat memberikan input yang lebih mendetail untuk menyempurnakan mekanisme flagging video selama ini.

Kegiatan selama satu hari penuh ini diisi oleh beberapa sesi. Setelah sambutan, sesi selanjutnya diisi dengan penjelasan tentang radikalisme oleh Thomas Karuth Samuel dari Director Digital Strategic Communications Southeast Asia Regional Centre for Countre-Terrorism (SEARCCT). Sesi ini mejelaskan tentang bagaimana gambar dan video dapat mendorong orang untuk menjadi radikal. Dalam pemaparannya, Thomas menganggap pentingnya memperbanyak konten-konten yang mengajak orang agar mau melakukan counter-terrorism.

Sesi selanjutnya diisi dengan penjelasan dari kebijakan-kebijakan Google oleh Jake Lucchi. Jake menjelaskan bahwa hasil kerja Trusted Flagger selama ini sangat memuaskan dengan persentase 88 persen aduan yang dilaporkan trusted flagger akurat. Indonesia bahkan termasuk lima besar yang paling akurat dalam melaporkan konten video ini.

Jake juga menjelaskan jumlah konten yang dihapuskan setiap harinya oleh Google, yaitu sebanyak 260 ribu konten video per hari. Jake juga menjelaskan bahwa data-data yang diberikan oleh para Flagger akan semakin meningkatkan kemampuan baca mesin terhadap konten-konten yang tidak sesuai dengan panduan komunitas. Oleh karena itu, peran para flagger menjadi sangat penting.

Sesi selanjutnya diisi dengan informasi tentang Google for Non Profit yang disampaikan oleh Meera Youn. Sesi ini menjelaskan fitur-fitur yang disediakan oleh Google untuk membantu aktivitas non-profit yang dilakukan oleh organisasi dalam menjalan proyeknya. Ada banyak tools yang dapat digunakan, misalnya saja ad grants, G Suite by Google Cloud, dan Youtube untuk non profit program.

Pemaparan menarik yang berkaitan dengan anak dijelaskan oleh Professor May O Lwin dari Wee Kim Wee School of Communication & Information. Tema yang dibahas adalah berkaitan dengan peran orang tua dalam mendidik anak di dunia online. Dalam paparannya, May menyebutkan bahwa anak-anak memiliki kesadaran yang rendah terhadap  Personal Identity Data (berkaitan dengan alamat, nomor paspor, dan nomor telepon) serta Sensitive Personal Data (berkaitan dengan rasial, opini politik, agama). Hal ini menyebakan sangat mungkin anak menjadi korban. Oleh karena itu perlu pendekatan yang baik dari orang tua dalam mendidik anaknya. May menjelaskan matrikulasi tipe mediasi orang tua yang terdiri dari selective, restrictive, promotive dan laissez faire.

Sesi keempat dilanjutkan dengan sesi diskusi dan feedback oleh para Youtube Flagger. Para Youtube Flagger memberikan masukan terhadap tantangan dan masukan yang dapat diberikan kepada Google untuk menyempurnakan mekanisme Youtube Flagger selama ini. Pada sesi ini ECPAT memberikan masukan agar membuat desain Youtube for Kids secara built-in di kanal Youtube, tidak lagi dibuat secara terpisah. Karena pada konteks Indonesia, banyak orang tua yang memberikan ponsel kepada anaknya tanpa pengawasan. Sehingga, filter seperti ini akan membantu orang tua mencegah anaknya mengakses konten yang berbahaya. ECPAT juga memberikan input terhadap pemberian informasi dan panduan ketika seseorang mencari konten-konten pornografi anak dengan menggunakan bahasa lokal.

Kegiatan ini ditutup dengan sesi foto bersama dan melakukan Google Office Tour.

 

Penulis:

Deden Ramadani

ECPAT IndonesiaTrusted Flagger Summit di Google Asia Pasifik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *