Workshop Penyusunan Panduan Desa Wisata Ramah Anak

BeritaKomentar

ECPAT Indonesia bekerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menyelenggarakan Workshop Penyusunan Panduan Desa Wisata Ramah Anak pada hari senin tanggal 22 Oktober 2018 di Hotel Mercure Sabang, Jakarta Pusat.

Penyusunan Panduan Desa Wisata Ramah Anak dilatarbelakangi oleh situasi dimana dampak pariwisata yang mampu menghasilkan keuntungan bagi devisa negara, namun pariwisata juga memberikan dampak kerentanan bagi anak untuk mengalami eksploitasi seksual. Hasil assessment yang dilakukan di tujuh (7) destinasi wisata yaitu Pulau Seribu (DKI Jakarta), Karang Asem (Bali), Gunung Kidul (Yogyakarta), Garut (Jawa Barat), Bukit Tinggi (Sumatera Barat), Toba Samosir dan Teluk Dalam (Sumatera Utara) oleh ECPAT Indonesia bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2016-2017, ditemukan adanya praktek kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang dilakukan oleh sejumlah wisatawan dalam bentuk pelacuran anak, pornografi anak, perkawinan anak dan perdagangan seks anak. Pada tahun 2015, ECPAT Indonesia juga melakukan penelitian di tiga lokasi wisata yaitu Lombok (NTB), Kefamenanu (NTT) dan Jakarta Barat (DKI Jakarta), tiga lokasi ini pun menemukan kasus-kasus kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang dilakukan oleh wisatawan. Berdasarkan hal tersebut, maka KPPPA bersama dengan ECPAT Indonesia berusaha mencegah terjadinya eksploitasi seksual di daerah wisata salah satunya membuat Panduan Desa Wisata Ramah Anak, hal ini agar Desa Wisata memiliki panduan untuk mencegah eksploitasi seksual anak sejak dini.

Workshop yang bertujuan untuk menyusun Panduan Desa Wisata Ramah Anak dimulai jam 09.00 pagi, dihadiri oleh tiga kementerian, yaitu Kementerian Pariwisata, Kementerian Desa, KPPPA serta dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan beberapa organisasi perlindungan anak, seperti Aliansi Down to Zero dan Plan Idonesia. Adapun masukan yang diberikan oleh peserta antara lain; (1) Judul panduan dirubah dari “Panduan Desa Wisata Ramah Anak” menjadi “Panduan Wisata Pedesaan Ramah Anak”, dengan perubahan judul menjadi “Wisata Pedesaan” untuk mengakomodir dua sasaran, yaitu Desa Wisata dan Kelurahan yang memiliki wisata pedesaan. (2) Indikator “Panduan Wisata Pedesaan Ramah Anak” akan mengacu pada “Indikator Desa Wisata” dari Kementerian Pariwisata, yang akan disinergikan dengan indikator “Kota Layak Anak”, (3) Penghargaan atas pembentukan dan implementasi Wisata Pedesaan Ramah Anak mengacu pada penghargaan Kementerian Pariwisata, (4) Implementasi dari Pembentukan Wisata Pedesaan Ramah Anak akan berada dibawah garis koordinasi Kementerian Pariwisata.

Penulis : Umi Farida

ECPAT IndonesiaWorkshop Penyusunan Panduan Desa Wisata Ramah Anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *