ECPAT Indonesia menyelenggarakan kegiatan “Boys Initiative Training: Let Boys Express Their Feeling” pada 4-5 Oktober 2025 di kantor ECPAT Indonesia, Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh anak dan orang muda berusia 15–22 tahun yang tergabung dalam KOMPAK Jakarta, Youth Voice for Change Indonesia, dan Forum Anak Nasional, dengan fasilitator dari ECPAT Indonesia dan Global Boys Initiative. Pelatihan ini merupakan langkah awal untuk memperkuat pemahaman anak muda mengenai kesetaraan gender dari perspektif perlindungan terhadap anak laki-laki, serta mengajak mereka memahami pentingnya ruang aman untuk mengekspresikan emosi dan kerentanan secara sehat. Terlebih jika dikaitkan dengan kondisi Eksploitasi Seksual Anak, yang mulai merambah ke anak laki-laki sebagai korbannya. Melalui kegiatan ini, peserta diajak menantang stereotip lama tentang maskulinitas dan membangun budaya empati, saling menghargai, dan dukungan lintas gender dalam upaya mencegah tindakan Eksploitasi Seksual Anak.
Diabaikannya Perlindungan untuk Anak Laki-laki
Selama ini, isu perlindungan anak kerap difokuskan pada perempuan dan anak perempuan, sementara anak laki-laki sering kali diabaikan atau dianggap tidak rentan. Padahal anak laki-laki juga sangat rentan atas kekerasan yang terjadi, anggapan bahwa anak laki-laki kuat justru menjadikan mereka semakin tidak terlihat. Pelatihan ini membuka ruang diskusi kritis bagi anak muda untuk memahami bahwa tekanan sosial terhadap laki-laki seperti tuntutan untuk selalu kuat, rasional, dan tidak menunjukkan emosi dapat menciptakan bentuk kerentanan tersendiri. Peserta belajar tentang konsep toxic masculinity, privilege gender, serta bagaimana ekspektasi sosial membuat anak laki-laki kehilangan ruang untuk mengekspresikan diri dan mencari dukungan.
“Anak laki-laki harus kuat kaya superman, jadi kadang kita bingung mau ekspresikan emosi bagaimana. Nangis dibilang cengeng, marah dibilang emosional, tapi diem juga dibilang gak peka,” ungkap salah satu peserta.
Melalui berbagai sesi reflektif dan aktivitas kelompok, peserta menyadari bahwa laki-laki pun membutuhkan ruang aman dan dukungan emosional yang setara. Mereka juga menemukan bahwa pendekatan empatik dan inklusif lebih efektif dibandingkan pendekatan instruktif dalam mendampingi anak laki-laki.
“Mereka cuman butuh didenger aja, dan diberikan contoh daripada harus diperintah. Makanya mendingan dikasih pilihan,” ujar seorang peserta lainnya.
Pentingnya Melihat Kesetaraan dari Dua Sisi
Kegiatan ini menegaskan bahwa kesetaraan gender bukan hanya tentang perempuan, tetapi juga tentang mendengarkan dan memahami pengalaman laki-laki. Dengan memahami dua sisi ini, anak muda dapat membangun relasi sosial yang lebih sehat, saling menghargai, dan bebas dari stigma. Peserta kemudian merancang tindak lanjut berupa kampanye “Let Boys Express Their Feeling #WeProtectTogether”, yang bertujuan mendorong masyarakat memberi ruang bagi anak laki-laki untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi. Kampanye ini juga menjadi simbol komitmen anak muda untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung.
Melalui pelatihan ini, ECPAT Indonesia berharap lahir generasi anak muda yang memahami bahwa perlindungan dan kesetaraan harus dirasakan oleh semua tanpa terkecuali. Mendengarkan suara anak laki-laki menjadi langkah penting untuk membangun masa depan yang adil, setara, dan bebas dari kekerasan bagi setiap anak.