Denpasar, 29 September 2025 — Dalam momentum World Tourism Day dan peluncuran United Nations Report on Contemporary Forms of Slavery, ECPAT Indonesia mengadakan Diskusi Publik bertema “Mengakhiri Eksploitasi Seksual dan Kekerasan terhadap Anak di Sektor Informal dan Sharing Economy” di Hotel Aston Denpasar, Bali.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan kolaborasi bagi berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat upaya perlindungan anak di sektor pariwisata. Melalui penyampaian key speech dari sejumlah stakeholder, sesi panel diskusi, diskusi kelompok lintas sektor, Voice of Children, serta pameran karya advokasi anak, para peserta diajak untuk memahami lebih mendalam mengenai risiko eksploitasi anak di sektor informal dan sharing economy, sekaligus menegaskan pentingnya tanggung jawab bersama dalam upaya pencegahannya.
Lebih dari 70 peserta hadir, baik secara luring maupun daring, mewakili pemerintah, ECPAT International, asosiasi dan komunitas pariwisata, sektor swasta, pelaku usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan forum anak dari berbagai daerah di Bali. Kegiatan tersebut dikemas menarik melalui sesi panel, diskusi kelompok, dan Voice of Children — di mana anak-anak tampil membawakan pertunjukan wayang serta menampilkan pameran karya advokasi masing-masing daerah. Momen ini menjadi pengingat penting bahwa suara anak harus didengar dan dilibatkan dalam upaya perlindungan anak itu sendiri.
Diskusi ini juga menghasilkan sejumlah rekomendasi penting. Di antaranya adalah perlunya mengintegrasikan prinsip perlindungan anak ke dalam regulasi pariwisata daerah, memperkuat koordinasi antar sektor hingga ke tingkat desa adat, serta mendorong pelaku usaha untuk menerapkan praktik bisnis yang ramah anak.
Melalui kegiatan ini, ECPAT Indonesia menegaskan kembali pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil untuk mengakhiri eksploitasi dan kekerasan terhadap anak di sektor pariwisata dan Sharing economy.
“Perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tapi kerja bersama. Kita perlu memastikan setiap langkah pembangunan pariwisata tetap berpihak pada kepentingan terbaik anak,” ujar perwakilan ECPAT Indonesia.
Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari langkah berkelanjutan untuk menjadikan pariwisata Indonesia tidak hanya indah dan ramah wisatawan, tetapi juga aman dan ramah anak.