Kochi, Kerala, India | 7–11 Oktober 2025 — ECPAT Indonesia melalui Down to Zero Alliance berpartisipasi dalam International Hacking and Cyber Security Briefing “c0c0n-XVIII”, sebuah konferensi keamanan siber internasional yang diselenggarakan pada 7–11 Oktober 2025 di Kochi, Kerala, India. Konferensi ini merupakan edisi ke-18 dari c0c0n, salah satu konferensi keamanan siber tahunan paling bergengsi dan terlama di kawasan Asia Selatan dan global. Acara ini diselenggarakan oleh Kerala Police bersama Information Security Research Association (ISRA – India Chapter), sebuah lembaga ilmiah terdaftar di bawah Cochin Literary Scientific and Charitable Societies Registration Act 1955. C0c0n bermitra dengan Childlight, ICMEC, POLCYB, IT Mission, Prajwala, ECPAT, dan GTech dalam penyelengaraannya. c0c0n menjadi ruang pertemuan strategis bagi berbagai pemangku kepentingan keamanan siber, mulai dari aparat penegak hukum, pakar keamanan siber, industri teknologi, akademisi, jaksa, hakim, ahli forensik digital, mahasiswa, hingga start-up. Para peserta mendiskusikan ancaman siber terkini dan strategi bersama untuk menghadapinya.
Topik utama yang dibahas meliputi keamanan informasi, perlindungan data pribadi, ancaman siber, forensik digital, kecerdasan buatan (AI), serta machine learning. Konferensi ini juga menghadirkan pameran teknologi berskala besar yang menampilkan solusi terbaru di bidang keamanan siber dan forensik digital. Pada tahun ini, c0c0n kembali menghadirkan Child Sexual Exploitation and Abuse (CSEA) Track selama dua hari, yang secara khusus membahas strategi pencegahan dan penanganan kejahatan seksual terhadap anak di ranah online. Track ini melibatkan aparat kepolisian, organisasi masyarakat sipil, lembaga pemerintah, penyedia layanan, anak dan orang muda serta pemangkukepentingan lainnya yang menangani kasus kejahatan online terhadap anak. CSEA Track diselenggarakan bekerja sama dengan Childlight dan ICMEC, serta membahas pendekatan dan strategi mutakhir dalam menangani eksploitasi dan kekerasan seksual terhadap anak berbasis teknologi.
Melalui Down to Zero Alliance, ECPAT Indonesia turut berkontribusi dalam CSEA Track dengan menghadirkan youth-led forum yang menempatkan suara anak dan orang muda di pusat diskusi c0c0n 2025. Forum ini membuka ruang dialog lintas generasi serta pembelajaran bersama, sekaligus memberikan panduan konkret bagi organisasi, pemerintah, aparat penegak hukum, dan aktor teknologi untuk bekerja secara bermakna dengan anak dan orang muda dalam menangani CSEA.
Salah satu perwakilan Youth Voice for Change ECPAT Indonesia, Ridho Putra Sutrisno, menekankan pentingnya peran keluarga dalam pencegahan CSEA:
“Yang masih kurang dalam percakapan tentang CSEA adalah peran orang tua yang tidak hadir. Orang tua seharusnya menjadi pelindung utama anak dari CSEA, namun banyak yang belum terlibat secara optimal atau belum memiliki kapasitas yang cukup. Mereka perlu didukung dengan literasi digital serta dibekali cara membangun hubungan yang dekat dengan anak—seperti teman—agar dapat memahami dunia mereka dan tetap selaras dengan perkembangan era digital. Sama pentingnya, anak perlu memiliki ruang aman dan tidak menghakimi untuk berbicara dengan orang tua tanpa rasa takut.”
Ridho juga membagikan pengalamannya dalam memperjuangkan suara anak di Indonesia:
“Saya memimpin upaya untuk mendengarkan suara anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia. Bersama-sama, kami mengubah cerita dan harapan mereka menjadi poin-poin advokasi yang disampaikan langsung kepada pemerintah dan para pemangku kepentingan. Kami menggunakan pendekatan kreatif seperti teater seni bertema CSEA berjudul ‘You’re Not Alone’ untuk mendengarkan suara para penyintas. Ini adalah perjalanan untuk memastikan keamanan digital anak dan orang muda, serta agar setiap kebijakan benar-benar mencerminkan hak, perlindungan, dan mimpi anak Indonesia.”
Dalam kegiatan ini, disampaikan juga hasil konsultasi anak bertajuk “A Roadmap to Partnering with Young People Against CSEA”. Roadmap ini menekankan prinsip kemitraan bermakna dengan anak dan orang muda dalam tiga tahapan: before, during and after kolaborasi.
Roadmap tersebut menyoroti pentingnya:
- Mengakui anak dan orang muda sebagai mitra setara dalam pengambilan keputusan
- Mengintegrasikan kemitraan anak ke dalam sistem, kebijakan, dan anggaran
- Membangun kepercayaan, komunikasi transparan, dan perlindungan tanpa membungkam suara anak
- Menciptakan ruang aman yang inklusif, kolaboratif, dan saling bertanggung jawab
- Memberikan umpan balik kepada masukan anak, menghargai kontribusi anak, serta mendukung keberlanjutan inisiatif yang dipimpin oleh anak dan orang muda
Partisipasi ECPAT Indonesia dalam c0c0n-XVIII menegaskan komitmen organisasi untuk terus mendorong pendekatan berbasis hak anak, kolaborasi lintas sektor, serta kepemimpinan anak dan orang muda dalam upaya global melawan eksploitasi dan kekerasan seksual terhadap anak berbasis online.
Melalui forum internasional ini, ECPAT Indonesia membawa praktik baik dari Indonesia ke tingkat global, sekaligus memperkuat jejaring dan pembelajaran bersama demi mewujudkan ruang digital yang aman bagi seluruh anak.
Penyusun:
Oviani Fathul Jannah
Program Manager