150.000 Anak Indonesia Dieksploitasi dan Jadi Sasaran Seksual Terutama di Tempat Wisata

BeritaKomentar

Indonesia rawan eksploitasi seksual komersial anak atau disingkat ESKA. Diperkirakan ada 150.000 anak Indonesia yang dieksploitasi secara seksual komersial. Fasilitas pariwisata sering dimanfaatkan orang-orang tak bertanggung jawab untuk ESKA.

Demikian benang merah yang diungkapkan narasumber workshop ESKA dalam rangka menyosialisasikan Rencana Aksi Nasional Penghapusan ESKA di Lingkungan Pariwisata ketika jumpa pers dengan wartawan, Selasa (15/7) di Jakarta.

Ahmad Sofian dari ECPAT Indonesia atau Child Wise Tourism perwakilan Indonesia mengatakan, sulit mengetahui jumlah pelacur anak-anak secara pasti karena usianya cenderung dipalsukan dan transaksi di tempat tertutup. Walaupun survei terbaru belum pernah ada, diperkirakan ada 150.000 anak-anak Indonesia menjadi pelacur.

”Jumlah perkiraan itu baru untuk pelacur anak, belum termasuk pornografi anak dan perdagangan anak yang juga menjadi bagian eksploitasi seksual komersial anak,” katanya. ”Dari survei yang dilakukan Unicef tahun 1998, ada 40.000 sampai 70.000 anak Indonesia korban eksploitasi seksual komersial,” ujarnya.

Ahmad Sofian menjelaskan, angka terbaru tak pernah ada karena diasumsikan sangat sulit. Namun, berdasarkan data dari Departemen Sosial tahun 2004, ada 71.000 pekerja seks komersial yang terdaftar. Untuk pelacur anak jumlahnya diperkirakan ada 150.000 anak.

Menolak eksploitasi

Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Firmansyah Rahim mengatakan, fasilitas pariwisata sering dimanfaatkan orang-orang yang tak bertanggung jawab untuk ESKA.

Padahal, sejak awal, kepariwisataan Indonesia telah menolak segala bentuk eksploitasi seksual yang dilakukan di lingkungan pariwisata karena hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai etika dan moral bangsa, sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 9 Tahun 1990 tentang Pariwisata.

Firmansyah Rahim menjelaskan, tahun 2004 di Vientiane, Laos, kepala pemerintahan dari 10 negara ASEAN telah menandatangani kesepakatan yang antara lain menyatakan tekad ASEAN untuk memerangi segala bentuk perdagangan dan eksploitasi seksual komersial terhadap perempuan dan anak.

Afrooz Kavieane Johnson dari Child Wise Tourism Australia mengatakan, Indonesia pada Oktober mendatang akan menjadi tuan rumah pertemuan negara- negara ASEAN guna membahas penghapusan eksploitasi seksual komersial anak.

”Pertumbuhan eksploitasi seksual komersial anak di negara-negara ASEAN meningkat, termasuk di Indonesia,” kata Afrooz Kavieane. (NAL)

JAKARTA, KOMPAS – 16 Juli 2008

ECPAT Indonesia150.000 Anak Indonesia Dieksploitasi dan Jadi Sasaran Seksual Terutama di Tempat Wisata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.