Dalam Sebulan, 168 Anak Menjadi Korban ESKA di Indonesia

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Jakarta, 7 Oktober 2016

ECPAT Indonesia baru saja merilis hasil pencatatannya tentang situasi Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) di Indonesia selama bulan September 2016. Pencatatan ini dilakukan dengan melakukan pengumpulan data melalui pemantauan media, investigasi serta hasil pendampingan kasus Eksploitasi Seksual Komersial Anak yang dilakukan selama bulan September 2016.

Berdasarkan hasil penelusuran ECPAT Indonesia, terdapat 8 (delapan) kasus ESKA yang berhasil terungkap. Bentuk-Bentuk Eksploitasi Seksual Komersial Anak yang terungkap selama bulan september adalah kasus Prostitusi anak dan Perdagangan Anak untuk Tujuan Seksual. Meskipun terhitung “hanya” delapan kasus, akan tetapi jumlah korbannya mencapai 168 anak. Artinya, dalam satu hari, terdapat kurang lebih 5 (lima) anak Indonesia menjadi korban ESKA. Menariknya, dari 168 korban, 88 persen (148 korban) adalah anak laki-laki, sedangkan 20 korban sisanya adalah anak perempuan.

Tingginya jumlah korban anak laki-laki ini tidak terlepas dari terungkapnya kasus prostitusi anak laki-laki di Bogor, Jawa Barat. Kasus yang menghebohkan publik ini memanfaatkan sosial media seperti facebook untuk memperjualbelikan anak laki-laki ini kepada pedofilia anak. Berdasarkan hasil investigasi dan Wawancara Mendalam kepada korban pedofilia, anak ini ternyata juga turut melibatkan laki-laki yang telah memiliki keluarga dan anak.

Tidak hanya di Jawa Barat, kasus-kasus ESKA juga terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Hanya dalam kurun waktu satu bulan saja, tercatat 5 (lima) provinsi yang diidentifikasi terjadi kasus ESKA. Kasus ESKA ini tersebar di empat kabupaten (Bantul, Kendal, Pasaman Sukabumi) dan tiga kota (Bogor, Padang dan Pekanbaru). Dari 8 (delapan) kasus yang terungkap, ternyata terdapat 1 (satu kasus) yang melibatkan anak sebagai mucikari/germo. Hal ini terungkap di Pekanbaru, Riau. Sedangkan 7 (tujuh) kasus sisanya melibatkan orang dewasa sebagai mucikari/germo.

Sebagaimana kasus ESKA yang terjadi di seluruh dunia, fenomena ESKA di Indonesia juga merupakan fenomena gunung es. Fakta yang sebenarnya terjadi terkait ESKA di Indonesia bisa jadi jauh lebih besar dibandingkan paparan data yang berhasil ditelusuri ECPAT Indonesia. Oleh karena itu, perlu komitmen seluruh pihak untuk menentang terjadinya Eksploitasi Seksual Komersial Anak. Karena anak yang terlibat ESKA adalah korban yang harus kita selamatkan.

Deden Ramadani

Research Coordinator ECPAT Indonesia

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Masukkan kata kunci pencarian...