Dinas Pendidikan Perlu Ambil Peran Terhadap ESKA

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Permasalahan eksploitasi dan kekerasan seksual terhadap anak selalu menjadi perbincangan serius akhir-akhir ini, hal ini terlihat pada pemberitaan media baik itu media elektronik, media cetak maupun media televisi. S ebut saja kasus yang menimpa anak-anak di sekolah bertaraf internasional, kasus pedofilia yang menimpa anak-anak melalui media elektronik dimana pelaku berhasil mengoleksi lebih dari 10.000 gambar anak yang akan digunakan untuk tujuan seksual. Kasus kekerasan seksual ‘massal’ kembali terjadi di Sukabumi, korbannya ada puluhan anak.

Kasus yang disebutkan di atas merupakan kasus yang tampak di permukaan, jumlah yang sebenarnya bisa lebih besar dari yang disebutkan. ECPAT Indonesia saja mencatat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir menemukan 365 anak-anak korban pedofilia di Bali.

Sementara Data dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), menunjukan bahwa angka kekerasan seksual terhadap anak setiap tahun mengalami peningkatan, hal ini terlihat dari banyaknya pengaduan ke KPAI setiap tahun, pada tahun 2012, KPAI telah menerima pengaduan terkait dengan kasus anak sebanyak 3871 kasus dan kasus kekerasan seksual dan ekspolitasi seksual sebanyak 735 kasus, pada tahun 2013 terdapat 925 kasus kekerasan seksual anak dan pada tahun 2014 dapat diprediksikan, kasus kekerasan seksual anak akan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.

Menurut Carmen madrinan, mantan Direktur Eksekutif ECPAT International, anak dan orang muda memiliki peran kunci dalam memerangi eksploitasi seksual komersial anak. ECPAT adalah organisasi pertama yang melibatkan orang muda dan orang muda menjadi salah satu aktor kunci dalam program-program yang dilakukan oleh ECPAT. Dan peran ECPAT sendiri yaitu, mencari anak dan orang muda yang memiliki kepedulian terhadap isu eksploitasi seksual komersial anak dan memberi mereka ruang untuk terlibat dan berpartisipasi dalam memerangi ESKA.

Melihat hal tersebut, ECPAT Indonesia melalui program Youth Partnership Program berupaya untuk menggandeng Dinas Pendidikan Jakarta Selatan. ECPAT Indonesia mengadakan audiensi pada tanggal 30 september 2014 untuk membicarakan kerjasama strategis yang bisa dilaksanakan. Ecpat Indonesia ingin meminta dukungan dari Dinas Pendidikan Jakarta Selatan dalam aktifitas yang akan ECPAT laksanakan.

“Kami mengharapkan terjalinnya kerjasama dengan Dinas Pendidikan sehingga bisa meningkatkan pengetahuan anak-anak mengenai kerentanan mereka terhadap kejahatan seksual” ungkap Andy Ardian selaku program manager ECPAT Indonesia. Permohonan kerjasama ini pun disambut baik oleh Dinas Pendidikan dan semoga akan terjalin kerjasama yang baik kedepannya.

 

 

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Masukkan kata kunci pencarian...