KOMUNIKASI INKLUSIF DALAM PENGASUHAN DAN PENELITIAN DENGAN ANAK

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Jakarta, 13 Oktober 2015 – Jaringan perlindungan Anak Indonesia/JPAI bekerja sama dengan Pratista dan Pusat Kajian Perlindungan Anak FISIP UI menyelenggarakan lokakarya setengah hari dengan tema “Komunikasi Inklusif dalam Pengasuhan dan Penelitian dengan Anak”

Lokakarya ini menghadirkan tiga orang pembicara yaitu Netty Lesmanawati dari Pratista, Bahrul Fuad dan Jaka Ahmad dari Puska Perlindungan Anak FISIP UI.

Dalam pemaparannya, Netty Lesmanawati yang merupakan direktur Pratista menekankan dalam berkomunikasi dengan anak diperlukan komunikasi yang efektif dan tepat sasaran. Komunikasi sudah bisa dilakukan sejak anak berada dalam kandungan. Komunikasi yang baik akan membangun kelekatan, memahami perasaan, membangun kesepahaman, serta akan mempengaruhi proses interaksi anak dengan lingkungannya kelak. Komunikasi yang baik dan efektif antara orang tua dan anak pada akhirnya akan sangat berpengaruh pada kualitas diri anak.

Pada sesi kedua Bahrul Fuad memberikan materi tentang komunikasi dengan anak penyandang disabilitas. Dalam pemaparannya, Bahrul Fuad yang akrab disapa “Cak Fu” mengatakan bahwa disabilitas pada dasarnya merupakan hasil interaksi seseorang dengan orang lain dan lingkungan yang menjadikannya terhambat untuk beraktifitas. Dia mencontohkan, seorang penyandang disabilitas netra (Tunanetra) dapat beraktifitas dengan normal jika lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingga penyandang disabilitas tersebut tidak kesulitan beraktifitas. Dalam berkomunikasi dengan penyandang disabilitas, Cak Fu menekankan pentingnya empati dan mengedepankan nilai kemanusiaan. Secara fisik mereka boleh saja menyandang disabilitas, tetapi nilai kemanusiaan mereka tidak pernah mengalami disabilitas sehingga mereka tidak boleh disepelekan.

Sementara itu dalam sesi terakhir, Jaka Ahmad yang akrab disapa “Jack” mengulas lebih dalam mengenai stigma yang seringkali menghambat penyandang disabilitas untuk maju. Materi diawali dengan simulasi yang menggambarkan stigma negatif yang sangat merugikan. Dalam simulasi ini, seorang relawan diminta duduk di kursi dan berperan sebagai seorang anak perempuan penyandang disabilitas. Pemeran tersebut mengucapkan dialog yang kurang lebih bunyinya: “aku ingin sekolah, aku ingin maju seperti anak-anak lainnya”. Beberapa relawan lain diminta maju ke depan dan masing-masing memerankan ayah, ibu, adik, kakak, guru, kepala sekolah, dan masyarakat. Semuanya maju satu persatu menentang keinginan si anak untuk bersekolah, sambil melilitkan tali tambang ke tubuh si anak. Tali tambang tersebut adalah gambaran stigma negatif yang pada akhirnya membuat penyandang disabilitas kesulitan bergerak.

Terkait dengan penelitian yang melibatkan penyandang disabilitas sebagai responden/informan, Jack menekankan perlunya empati dan harus mengerti ekspresi serta gesture responden. Dalam banyak kasus, pendamping terlalu dominan. Menghadapi hal seperti ini peneliti harus fokus dan tetap bertanya langsung pada responden/informan untuk menunjukkan respek dan menjaga kualitas data. Jika dibutuhkan FGD, peneliti harus memperhatikan jenis dan karakteritik disabilitas dengan mempertimbangkan kemampuan merepon yang berbeda-beda. Menurut Jack setiap individu memiliki kebutuhan dan cara berkomunikasi tertentu.

Lokakarya ditutup dengan makan siang.

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Masukkan kata kunci pencarian...