Maraknya Prostitusi Anak, Anak Sebagai Komoditas Trafficking untuk Tujuan Seksual

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Jakarta, 14 Maret 2016 – Kita kembali dikejutkan dengan pemberitaan dari beberapa media berkaitan dengan maraknya kasus prostitusi yang terjadi dikalangan masyarakat kita, dari kasus prosititusi tersebut, banyak anak-anak yang selalu menjadi target dari kegiatan prostitusi tersebut. Kasus prostitusi anak yang baru terjadi adalah, kasus anak-anak yang menjadi pelayan warung kopi yang terjadi di Jagakarsa, kasus ini telah melalui proses peradilan, dimana masyarakat telah melaporkan kasus ini ke Polsek Jagakarsa, Jakarta selatan.

Prostitusi anak adalah tindak kejahatan dalam perdagangan anak untuk tujuan seksual yang merupakan salah satu kejahatan terorganisir bahkan termasuk dalam kejahatan lintas negara. (transnational crime). Bahkan tidak sedikit kepolisian negara lain seperti FBI, AFP, dan Interpol disetiap negara memiliki mekanisme khusus dalam mengungkap kejahatan perdagangan anak untuk tujuan seksual ini sementara itu di Indonesia Kepolisian kita membentuk Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) yang saat ini sudah mulai di siapkan untuk di tingkat Polsek yang sudah terlatih untuk melakukan penanganan kasus-kasus dimana anak dan perempuan yang menjadi korban kejahatan.

Dalam kasus Perdagangan anak untuk tujuan seksual (prosttitusi anak) pelaku kejahatan telah melanggar undang-undang No. 35 tahun 2014 tentang pengesahan perubahan UU perlindungan anak no 23 tahun 2012 dan dikenai sangki hukuman penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun. Juga undang-undang no. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, pelaku perdagangan dapat dikenai hukuman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara. Sosialisasi undang undang ini perlu terus dilakukan dalam melindungi anak dari situasi prostitusi.

Dalam peristiwa terungkapnya prostitusi anak di kafe jagakarsa ECPAT Indonesia menilai bahwa maraknya kasus-kasus prostitusi aseperti ini terjadi tidak saja di ibukota bahkan hampir di seluruh kota di indonesia, baik itu prostitusi yang terbuka maupun yang terselubung, kasus Warkop Jagakarsa merupakan salah satu kasus yang terlihat aktivitasnya, sehingga memudahkan kepolisian dalam melakukan penyelidikan. ECPAT Indonesia menilai banyak kasus-kasus prostitusi yang terjadi di tempat-tempat yang tersembunyi seperti di hotel-hotel dan juga tempat kos-kostan, kebanyakan prostitusi di tempat-tempat tersebut merupakan ptostitusi kelas atas, dan kepolisian masih belum mampu untuk menyentuh tempat-tempat prostitusi anak di kalangan atas tersebut.

Beberapa waktu yang lalu, kita mendengarkan pemberitaan mengenai prostitusi kelas atas yang terjadi di hotel-hotel dengan pemesanan melalui media online dan terkadang ada mucikarinya, ECPAT Indonesia melihat bahwa kasus-kasus ini masih banyak terjadi baik di hotel, apartemen maupun tempat yang serupa kos-kosan elite.

Sejak tahun 2010, ECPAT Indonesia telah bekerjasama dengan hotel-hotel yang dibawah naungan Accor group, ada point penting dalam kerjasama tersebut diantaranya adalah hotel yang dibawah naungan Accor group, memiliki aturan yang ramah pada anak dengan tidak menerima tamu yang membawa anak-anak tanpa status yang jelas dan hotel tidak menyediakan tempat untuk terjadinya aktivitas eksploitasi seksual komersial anak (prostitusi anak). ECPAT Indonesia menilai bahwa masih banyak hotel-hotel di Jakarta belum memiliki aturan yang ramah pada anak, yang masih memikirkan keuntungan tanpa mempertimbangkan untuk membuatkan aturan-aturan yang ramah pada anak-anak, kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya aktivitas prostitusi di tempat-tempat tersebut.

Persoalan prostitusi tidak hanya terjadi pada tempat-tempat elite dan kelas atas, namun yang banyak terjadi adalah aktivitas prostitusi di masyarakat menengah ke bawah. Seperti yang terjadi di Warung Kopi, Jagakarsa, pelaku prostitusi memanfaatkan anak-anak untuk dipekerjakan sebagai “pelayan” kafe namun tidak sekadar pelayan namun ada layanan “plus-plus”.

Pada kasus-kasus Trafficking anak untuk tujuan seksual, pelaku biasanya memanfaatkan anak-anak yang berlatar belakang ekonomi yang rendah, rendah secara pendidikan dan anak-anak yang memiliki keinginan untuk merubah hidup menjadi orang kaya secara instan, kebanyakan pada kasus-kasus trafficking, pelaku selalu mencari korban yang masih berusia anak-anak, hal ini karena pemikiran anak-anak masih labil sehingga mempermudah pelaku untuk menjerat anak-anak untuk bekerja di tempat yang rentan sehingga sangat mudah untuk diekspolitasi.

Berdasarkan hal di atas, ECPAT Indonesia menyampaikan pendapat kami sebagai berikut:

1. Bahwa banyak kasus-kasus prostitusi khususnya prostitusi anak yang ada di masyarakat, namun kasus-kasus ini tidak tersentuh hukum, maka ECPAT Indonesia sangat berharap kepada Kepolisian untuk melakukan penanganan yang serius pada kasus-kasus prostitusi anak.

2. Meminta kepada Kepolisian Polsek Jagakarsa untuk menggunakan Undang-undang yang tepat sesuai dengan kasus kepada pelaku, dengan menggunakan Undang-Undang No 35 Tahun 2014 perubahan tentang Perlindungan Anak Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-undang No 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO).

3. Meminta kepada Kepolisian untuk menyampaikan hak-hak korban khususnya hak untuk pemulihan, restitusi dan rehabilitasi.

4. Meminta kepada pemerintah untuk membuatkan kebijakan khusus dalam rangka memberikan perlindungan bagi anak-anak khususnya bagi anak-anak yang menjadi korban prostitusi, anak yang menjadi korban trafficking untuk tujuan seksual, dan anak-anak yang dinikahkan untuk tujuan ekspolitasi seksual.

Hormat Kami,
End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking of Children For Sexsual Purposes
(ECPAT Indonesia)

Dapat menghubungi:

Bapak Ahmad Sofian (0811. 650280)
Erna (0821.1385. 0972.

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Masukkan kata kunci pencarian...