Pelatihan “Peningkatan Kapasitas Aktifis PATBM dalam penanganan situasi eksploitasi seksual anak melalui online” “INTERNET AMAN UNTUK ANAK”

BeritaKomentar

Pelatihan Internet Aman bagi Anak, dilaksanakan pada tanggal 09-10 Mei 2019 di Hotel Swissbell Medan, Sumatera Utara. Pelatihan ini merupakan kegiatan kedua dari serangkaian pelatihan Internet Aman untuk Anak yang rencananya akan dilaksanakan di 4 (empat) kota yaitu Pontianak, Medan, Surabaya dan Palembang. Kelompok sasaran pelatihan: SKPD dan PATBM Kabupaten Langkat dan Kota Pematang Siantar. Pelatihan ini merupakan hasil kerjasama antara Asdep Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Seksual KPPPA dengan ECPAT Indonesia (Agung Budi S. AP. MH). Untuk menggambarkan pelaksanaan pelatihan, berikut ini kami sampaikan proses berlangsungnya agenda acara pelatihan:

Hari Pertama

Pembukaan:

Pelatihan dibuka oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Provinsi Sumatera Utara. Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan, adapun materi yang disampaikan adalah sebagai berikut:

Materi I – Perkenalan, Kontrak Belajar dan Ice Breaking, pretest

Pada sesi ini peserta diajak berkenalan satu sama lain antar peserta, kemudian peserta diajak membuat kesepakatan (aturan forum) selama pelatihan berlangsung, diantaranya mensetting HP menjadi silent dan keluar ruangan pelatihan bila menerima telephon. Peserta juga menuliskan harapan dan kekhawatiran.

Adapun beberapa harapan peserta: (1) Peserta berharap mendapatkan pengetahuan tentang apa itu eksploitasi seksual anak online, (2) Peserta dapat membawa dan mensosialisasikan pengetahuannya di komunitas masing-masing sehingga membawa perubahan literasi digital di komunitasnya.

Kekhawataran: (1) Karena ketidakpahaman dan minimnya informasi serta pengetahuan terkait dengan internet, dikhawatirkan adanya penolakan dari komunitas terhadap penyampaian materi yang menyangkut eksploitasi seksual anak online, (2) Sulit memahami materi karena belum begitu memahami tentang dunia internet.

Materi II – Situasi ESA Online oleh Umi Farida

Menjelaskan tentang definisi eksploitasi seksual anak online, yaitu berbagai bentuk kekerasan seksual anak yang terjadi pada kondisi online, dengan bentuk-bentuk tindakannya antara lain; (1) Materi yang mengandung eksploitasi seksual anak (seperti anak menjadi obyek pornografi), (2) Grooming online untuk tujuan seksual adalah sebuah proses untuk menjalin atau membangun sebuah hubungan dengan seorang anak melalui penggunaan internet atau tekhnologi digital lain untuk memfasilitasi. (3) Sexting yaitu pembuatan gambar seksual sendiri, atau penciptaan, pembagian, dan penerusan gambar telanjang atau nyaris telanjang yang menggoda secara seksual melalui telepon genggam dan/atau internet. (4) Pemerasan Seksual yaitu ancaman penyebaran materi photo atau video korban (yang dibuat sendiri) dengan harapan mendapatkan imbalan seks, uang atau keuntungan lain dari korban. (5) Siaran Langsung kekerasan seksual pada anak yaitu permintaan untuk live di internet dalam posisi telanjang atau melakukan aktifitas seksual yang merupakan paksaan terhadap seorang anak untuk orang lain yang jaraknya jauh.

Catatan: Presentasi materi Situasi ESA Online diakhiri dengan game “Berteman Yuk”, yaitu permainan dengan mengsimulasikan permintaan pertemanan melalui facebook, dimana dari 5 akun yang meminta pertemanan terdapat 2 akun palsu yaitu predator seksual anak yang menyamar untuk mendapatkan korban, satu akun predator seks anak tetapi akunnya adalah akun asli, dan 2 akun lagi adalah akun asli dengan informasi dan pengguna akun yang memiliki latar belakang orang baik-baik yang memiliki hobby dan prestasi dibidang masing-masing.

Paparan Ibu Valentina Ginting dari Asisten Deputi Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Seksual KPPPA

Dalam presentasinya ibu Valentina Ginting menyampaikan bahwa PATBM harus tahu data dimasing-masing daerahnya, dimana hal ini penting sebagai dasar untuk melakukan advokasi. Dengan pengetahuan terhadap data diharapkan PATBM dapat melakukan upaya pencegahan bagi kasus kekerasan dan eksploitasi seksual anak di masing-masing daerahnya, sehingga data angka kekerasan anak Indonesia dapat diturunkan. Dimana menurut beliau saat ini 2 dari 3 anak Indonesia pernah mengalami kekerasan, baik itu fisik maupun seksual. Adapun bentuk kekerasan seksual pada anak dapat terjadi melalui kontak fisik secara langsung maupun tidak kontak secara fisik lagsung.  Bentuk kekerasan seksual tersebut salah satunya karena dampak penggunaan internet oleh anak sehingga rentan menjadi korban eksploitasi seksual.

Berdasarkan hal itu, Bu Valen menekankan penerapan mekanisme rujukan PATBM, yaitu ketika ada kasus harus ada musyawarah (rembukan) dengan masyarakat, harapannya kasus anak dapat diselesaikan secara musyawarah di masyarakat, dengan harus memastikan anak tidak mengalami gangguan psikososial (gangguan kejiwaan anak)

Paparan Bu Valen, mendapatkan tanggapan dari 3 Peserta, diantaranya:

  1. Data ditingkat Desa lebih tinggi dari pada diperkotaan, hal ini mengkhawatirkan, apa penyebab di desa prosentasinya lebih tinggi disbanding perkotaan? Solusinya apa? Ketika terjadi kasus ada kesepakatan untuk berdamai, meskipun berdamai kasus tersebut membekas ke masyarakat, apa yang bisa kita perbuat utk anak tersebut agar mendapatkan haknya? (Jawaban: apa yang diungkapkan di forum ini merupakan gambaran dari hasil survey nasional, bahwa kasus anak kompleks dan membutuhkan penyelesaian segera. Efek trauma anak yang mengalami kekerasan seksual adalah setelah anak mengalami kekerasan seksual dapat berubah sikap menjadi pendiam, dapat juga berubah menjadi negatif)
  2. Kasus orang tua mensuntikkan pil KB kepada anaknya yang down sindrom? (Jawaban: PATBM melakukan pendekatan pada keluarganya, ibu dan anaknya, dengan cara menggunakan kearifan local, misalnya mengajak ibu dalam kegiatan social, pendekatan pemberi suntikan/Lembaga terkait/ puskesmas, kenapa mereka memberikan secara bebas obat-obat yang seharusnya pada orang tertentu)
  3. Bagaimana pendekatan pada keluarga yang anaknya mengalami kekerasan? (Jawaban: penting mempelajari mendekati keluarga anak yang sedang mengalami kasus kekerasan seksual)

Materi III–Internet dan Teknologi Oleh Widuri dari ICT Watch

Menjelaskan tentang apa itu internet, media social dampak positif dan negatif berinternet dan bagaimana metode menggunakan internet yang aman bagi anak. Peserta diajari cara menggunakan internet yang aman yaitu dengan mengaktifkan google save, dan juga dengan melaporkan setiap konten negative atau yang mengandung eksploitasi seksual anak pada provider internet seperti YouTube, Google, Facebook dan Twitter, jika ingin melaporkan proses hukum maka sebaiknya melaporkan videonya langsung ke polisi, KPAI atau KPPPA

Materi IV-Parenting di Era Digital Oleh Widuri dari ICT Watch

Menjelaskan tentang Peran orang tua dan komunitas dalam pengasuhan di era digital, diantaranya:

  • Orang tua melakukan pengawasan, pembimbingan dan memberikan contoh pada anak terkait bagaimana berinternet yang bertanggungjawab dan aman;
  • Guru dan sekolah membekali para pendidik dan siswanya dengan pengetahuan dan kemampuan literasi digital. Serta mempersiapkan lingkungan sekolah dengan peraturan yang telah disepakati bersama agar siswa dapat mengakses internet aman;
  • Pemerintah, mendukung perlindungan anak di ranah online. Membuat kebijakan pengembangan kapasitas masyarakat dalam bidang literasi digital perlu disusun dan diterapkan, agar masyarakat, khususnya orang tua, paham atas pentingnya isu terkait perlindungan anak di ranah online; dan
  • Komunitas sebagai fasilitator Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat, Forum Anak, Relawan TIK dan sebagainya untuk dapat mendampingi lingkungan dan melakukan edukasi terkait dunia digital kepada masyarakat.

Selain itu peserta juga diberikan 7 tips atau langkah pengasuhan diera digital, yaitu:

  1. Menjaga komunikasi dengan anak
  2. Membekali diri dan terus belajar
  3. Gunakan aplikasi Pengawas Aktivitas Anak di Internet (Parental Control)
  4. Diskusikan aturan dasar terkait internet di rumah
  5. Menjadi teman dan ikuti anak di media social
  6. Jelajahi, berbagi dan merayakan bersama anak
  7. Menjadi panutan pelaku digital yang baik

 Materi V. Situasi Eksploitasi seksual anak Online di daerah

Dialog interaktif – Lembaga Lokal situasi ESA online dan penanganannya, oleh Emy dari PKPA Medan

Ibu Emy sharing kasus eksploitasi seksual anak online yang sedang ditangani PKPA, yaitu: Kasus terjadi sebelum bulan Ramadhan, dimana anak melakukan pencabulan terhadap anak perempuan kakak beradik, hal ini terjadi karena pengaruh Google (internet). Dimana Pelaku memegang-megang alat kelamin korban dan memasukkan alat kelamin pelaku di dubur korban. Anak sebagai pelaku tersebut berusia 13 (tiga belas) tahun duduk di bangku SMP mencabuli korban kaka beradik yang berusia 4-5 tahun.

Langkah PKPA:

  • Kepentingan terbaik bagi anak, PKPA menghubungi pemangku kepentingan terkait melalui surat resmi yang menginformasikan bahwa ada kasus anak yang berhadapan dengan hukum karena terpapar internet
  • Pendekatan dari hati ke hati pada anak pelaku maupun anak korban, pada orang tua pelaku maupun orang tua korban, hal ini untuk meminimalisir rasa trauma korban dan juga pelaku
  • Pendekatan restorative justice, berdasarkan UU SPPA yaitu penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, dan bukan pembalasan.
  • Mengupayakan diversi yaitu pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.
  • Bekerja sama dengan Dinas PPA dan Dinas terkait lainnya untuk melakukan rehabilitasi anak, contoh dari kerjasama ini adalah Dinas terkait menyepakati membayar pembiayaan untuk pemeriksaan dubur korban
  • Menekankan pada orang tua untuk melakukan pengawasan kepada anak-anaknya, hal ini sebagai upaya preventif terjadinya kasus eksploitasi seksual anak online.

Pada sharing peserta beberapa kasus yang terungkap, diantaranya:

  • Kasus di Sibolga anak dijual ke Malaysia melalui Facebook dengan modus menawarkan iklan kawat gigi, namun ternyata anak bukan dijadikan model kawat gigi tetapi malah dijadikan pekerja seks.
  • Sodomi, satu anak mensodomi 5 anak karena pengaruh internet
  • Satu orang anak diperkosa oleh 8 orang pelajar di Pematang Siantar
  • Ibu dan bapak dalam proses cerai, si ibu berkenalan dengan seorang pria melalui internet, kemudian terjadi sexting dan video call seks, pelaku menyimpan dan mereka video call dengan korban, pelaku menyebarkan rekaman video dan foto-foto korban melalaui facebook korban (korban memberikan password pada pelaku) sehingga foto dab video korban ditonton oleh teman korban. Akibat dari kasus ini anak korban menjadi korban bulian dan malu untuk bersekolah dan bersosialisasi.

Hari Kedua

Materi VI– Penjelasan tentang Hukum, oleh bapak Ahmad Sofian

Menjelaskan tentang diversi sebagai sebuah mekanisme penyelesaian dengan pendekatan Restorative Justice untuk mencapai keadilan.  Yang diatur di dalam Pasal 5-16 UU11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Adapun dasar hukum nelakukan diversi, adalah: (1) Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak; (2) PP no. 65 tahun 2015 tentang pedoman pelaksanaan diversi dan penanganan anak yang belum berumur 12 tahun; (3) Perma no. 4 tahun 2014 tentang pedoman pelaksanaan diversi dalam sistem peradilan pidana anak; (4) Surat edaran kapolri no. 8 tahun 2018 tentang penerapan restorative justice dalam perkara pidana; (5) Perjak no. 006 tahun 2015 tentang pedoman pelaksanaan diversi pada tingkat penuntutan.

Dalam kesempatan tersebut juga dijelaskan definisi Restorative Justice, yaitu pandangan yang berfokus pada pemulihan penderitaan korban sebagai wujud pertanggungjawaban pelaku tanpa mengesampingkan kepentingan rehabilitasi pelaku dan kepentingan untuk menciptakan serta menjaga ketertiban masyarakat, serta definisi Diversi yaitu pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana ke luar proses formal untuk diselesaikan secara musyawarah.

Adapun pihak (actor) yang terlibat dalam diversi, yaitu keluarga dan masyarakat, penegak hukum, yaitu Polisi, Jaksa, Hakim [Advokat], petugas pemasyarakatan, yaitu Pembimbing Kemasyarakatan, Pekerja Sosial Profesional, Tenaga Kesejahteraan Sosial, korban dan pelaku

Catatan: Diakhir presentasi peserta diputarkan satu video simulasi melakukan diversi, kemudian peserta dibagikan 2 kasus eksploitasi seksual anak online dan offline, dimana peserta yang telah dibagi menjadi 4 kelompok diminta untuk mensimulasikan proses diversi dari kasus tersebut.

Panel: Diskusi Penanganan Kasus ESA Online dengan Kepolisian oleh Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Polda Sumatera Utara

Menjelaskan tentang bagaimana cara menangani kasus yang tersangkanya anak, bujuk rayu seperti pornografi menunjukkan postur tubuhnya, menjajakan tubuhnya.  Berdasarkan pengalaman Kanit PPA prostitusi online korbannya anak (korban keperawanannya dihargai 10 juta), tersangka juga anak, tersangka awalnya adalah korban kemudian menjadi pelaku.

Dalam menangani kasus anak yang berhadapan dengan hukum, Kepolisian berkoordinasi dengan NGO (LSM/Organisasi Masyarakat) dan Bapas. Pada kasus anak yang berhadapan dengan hukum, polisi selalu mengupayakan diversi sebagai kewajiban utama.

Penulis : Umi Farida

ECPAT IndonesiaPelatihan “Peningkatan Kapasitas Aktifis PATBM dalam penanganan situasi eksploitasi seksual anak melalui online” “INTERNET AMAN UNTUK ANAK”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.