Peluncuran Buku Tinjauan oleh ASEAN Commission on The Promotion and Protection of The Rights of Women and Children (ACWC)

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Jakarta, 1 Oktober 2016 – Perdagangan manusia merupakan salah satu kasus yam masih menjadi sorotan di masyarakat. Banyaknya kasus kasus ini menunjukkan bahwa saat ini sudah berkurang rasa peduli dan rasa mengasihi terhadap sesama manusia. Perdagangan manusia kali ini tidak hanya di lakukan terhadap wanita saja, tetapi juga anak-anak, baik itu anak perempuan maupun anak laki-laki. Hal inilah yang membuat ASEAN Commission on The Promotion and Protection of The Rights of Women and Children (ACWC) untuk membuat suatu buku tinjauan regional mengenai Peraturan, Kebijakan dan Praktik-praktik di ASEAN Dalam Identifikasi, Manajemen dan Penanganan Korban Perdagangan Orang, Khususnya Perempuan dan Anak. Buku ini diluncurkan pada Rabu, 28 September 2016 di Hotel Le Meridien, Jendral Sudriman, Jakarta.

Acara ini di hadiri oleh perwakilan dari ACWC, AICHR (ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rigths), SOMTC (Senior Officials Meeting on Transnational Crime), Menteri Luar Negeri, dan Duta Besar dari setiap negara yang merupakan bagian dari Negara ASEAN, serta beberapa perwakilan dari U.S Mission, ASEAN, dan NGO Indonesia. ECPAT Indonesia berkesempatan hadir dalam kegiatan ini dan turut serta mengikuti launching tinjauan regional tersebut yang sangat berguna dalam upaya memerangi situasi perdagangan orang khususnya di kawasan ASEAN.

Tinjauan daerah memberikan gambaran dan penilaian hukum, kebijakan dan praktik dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) wilayah yang terkait dengan perdagangan orang (TIP) – dengan fokus khusus pada identifikasi, manajemen dan rehabilitasi korban perdagangan orang, terutama perempuan dan anak-anak. itu adalah produk dari upaya kolaboratif yang dipimpin oleh Komisi ASEAN untuk Promosi dan Perlindungan Hak Perempuan dan Anak (ACWC) dengan dukungan dari Dialog Regional EU-ASEAN Instrumen Hak Asasi Manusia Facility (READI HRF) dan ASEAN-US. Kemitraan untuk Tata Pemerintahan yang Baik, Equaitable dan Pembangunan Berkelanjutan dan Keamanan (PRGORESS).

Tujuan peninjauan adalah untuk mendukung ASEAN dan negara-negara anggota dalam upaya mereka untuk meningkatkan respon nasional dan regional untuk membantu korban perdagangan, khususnya memberikan penilaian yang akurat dan up-to-date dari situasi saat ini berdasarkan informasi terbaik yang tersedia, menyoroti praktek yang baik di kawasan ini dan mengidentifikasi isu-isu untuk dipertimbangkan oleh Negara Anggota ASEAN dan menyajikan rancangan rekomendasi.

Hadir sebagai pembicara dalam acara ini antara lain Ibu Lily Purba, perwakilan dari ACWC Indonesia, Dr. Dinna Wisnu, perwakilan AICHR Indonesia, H.E Francisco Fontan Pardo, EU Ambassador to ASEAN, H.E Nina Hachigian, US Ambassador to ASEAN, H.E Vongthep Arthakaivalvatee, Deputy-Secretary General for ASEAN dan H.E. Amb. Dr. Sujatmiko, Menko Perkembangan Manusia dan Budaya Indonesia.

Ke-enam pembicara ini, satu per satu melakukan pidato singkat mengenai maksud dari mereka menulis buku tinjauan dan harapan mereka dari buku ini untuk dapat menjadi salah platform untuk mengurangi adanya perdagangan manusia di negara-negara ASEAN.

Selain itu ada pidato dari perwakilan ACWC, yaitu Congchith Chantharanonh, Prof. Aurora de Dios, Dr. Chiam Heng Keng yang berbicara mengenai Temuan kunci dalam Buku Tinjauan Regional Peraturan, Kebijakan dan Praktik-Praktik di ASEAN Dalam Identifikasi, Manajemen dan Penanganan Korban Perdagangan Orang, Khususnya Perempuan dan Anak yang menjelaskan tentang temuan-temuan kunci saat mendampingi Korban Trafficking, melakukan perlindungan hak korban Trafficking, mendefinisikan dan menkriminalisasikan perdagangan orang, proses mengidentifikasi Korban, Upaya Pencegahan Trafficking, akses untuk keadilan, dan korban sebagai saksi.

Melalui buku tinjauan ini diharapkan upaya penanggulanganan Perdagangan Orang dapat berdampak lebih baik dalam menekan kasus-kasus baru dan membongkar kasus yang telah ada. Setidaknya upaya ini bisa menyatukan ASEAN dan mendorong upaya kerjasama antar negara ASEAN menjadi lebih baik dan lebih kuat dalam memerangi perdagangan orang.

Penulis :

Geovania Loppies

Intern ECPAT Indonesia

Binus University

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Masukkan kata kunci pencarian...