Trend Kejahatan Seksual Terhadap Anak di Masa Pandemi

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Trend Kejahatan Seksual Terhadap Anak di Masa Pandemi

(Studi ECPAT INDONESIA, 2021)

Pendahuluan

Tahun 2020 menjadi tahun yang berbeda bagi seluruh masyarakat di dunia. Perubahan pola hidup dan gaya hidup menjadi satu hal yang menjadi perhatian oleh para pemerhati terutama untuk pemerhati kejahatan dan perlindungan bagi anak. Berubahnya gaya hidup offline menjadi online menjadi satu red light untuk anak-anak. Tidak hanya sosialisasi namun kejahatan di ranah daring yang mengancam anak. Catatan ini akan menjelaskan tentang kasus kejahatan seksual yang terjadi pada anak selama tahun 2020. Bagaimana tren kejahatan seksual terhadap anak, pola pelaku dan pekerjaannya juga tempat terjadinya perkara. Namun tidak lupa juga bagaimana status dari kasus-kasus ini dalam system peradilan pidana.

 

  1. Kerentanan Anak Menjadi Korban Kejahatan Seksual

Dari hasil pengumpulan data yang dilakukan oleh ECPAT Indonesia melalui pemberitaan online, ECPAT Indonesia mencoba untuk memetakan kerentanan yang dihadapi oleh anak. Bagaimana tipologi terjadinya kejahatan terhadap anak yang mencakup lokasi, pelaku, dan penanganan hukum terhadap kejahatan tersebut.

Anak-anak rentan terhadap kejahatan seksual. Dari banyak modus yang ditemukan dalam kasus kejahatan seksual, banyak anak yang menjadi korban kejahatan seksual. Ada banyak bentuk kejahatan dan eksploitasi seksual yang terjadi pada anak. Dari hasil pantauan media selama tahun 2020, ragam jenis kejahatan seksual yang ditemukan dalam data di bawah ini:

Dari hasil temuan pantauan ECPAT terhadap pemberitaan media online, dapat dikatakan bahwa anak-anak sangat rentan terhadap kejahatan seksual khususnya pencabulan. Selain itu isu perdagangan manusia tidak bisa dihiraukan begitu saja. Banyak kasus perdagangan manusia (khususnya anak) berujung kepada prostitusi baik online maupun offline. Namun, mengingat situasi pandemic yang membatasi gerak manusia secara offline, modus ini sangat perlu untuk diwaspadai. Pada kasus pencabulan anak, salah satu kasus yang berkontribusi dalam memperbanyak korban pencabulan adalah kasus pencabulan yang dilakukan oleh WNA Perancis, yang kemudian ditemukan bunuh diri.

Dari data di atas, juga menunjukkan bahwa anak-anak memiliki kerentanan yang tinggi untuk menjadi korban kejahatan seksual.  Dan bahwa korban tidak hanya anak perempuan namun juga anak laki-laki.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh ECPAT kepada 700 anak dan 300 orang tua, ditemukan bahwa anak-anak rentan mendapatkan tautan-tautan yang kemudian dialihkan ke gambar-gambar tidak senonoh. Modus online, seperti penggunaan aplikasi michat juga menjadi ancaman lain yang perlu diperhatikan walaupun dari hasil temuan pantauan pemberitaan media online, kasus-kasus yang terjadi di media online masih lebih sedikit jika dibandingkan kejahatan seksual yang berbasis offline. Namun, pada beberapa kasus ditemukan penggunaan aplikasi sebagai media untuk menjajakan diri (anak-anak).

Dari Temuan ECPAT juga ditemukan bahwa anak-anak laki juga memiliki kerentanan tinggi menjadi korban pelecehan seksual seperti yang digambarkan di tabel di bawah ini.

Dari temuan di atas, ada beberapa temuan menarik. Pada kasus pedofilia kejahatan seksual tidak ditemukan korban perempuan namun, ditemukan korban laki-laki. Hal ini mengindikasikan bahwa stigma perempuan sebagai korban kejahatan seksual perlu dihapus, karena anak laki-laki memiliki tingkat kerentanan yang sama dengan anak perempuan. Namun, modus kejahatan yang dialami anak laki-laki mungkin berbeda dengan modus kejahatan yang dialami oleh anak perempuan.

 

2. Pelaku Kejahatan dan Kekerasan Seksual

Ancaman lain yang perlu diwaspadai adalah berkaitan dengan pelaku kejahatan kekerasan seksual terhadap anak. Dari data yang diolah, kami menemukan bahwa mayoritas pelaku merupakan orang-orang yang berada di lingkungan terdekat korban. Atau dapat dikatakan mayoritas pelaku merupakan orang-orang yang dikenal dan dipercaya oleh korban. Dalam pengolahan data, kami menemukan orang-orang di lingkar pertama anak menjadi pelaku terhadap kejahatan seksual yang dialami oleh anak. Perbandingan pelaku kejahatan tersebut di presentasikan sebagai berikut:

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa mayoritas pelaku merupakan lingkungan terdekat anak, dapat dikatakan bahwa pelaku memiliki kepercayaan anak terhadap mereka, terlebih lagi sangat disayangkan bahwa beberapa pelaku merupakan tenaga pendidik. Selain orang terdekat, angka pelaku terbanyak dikategorikan sebagai lainnya. Hal ini diklasifikasikan pada jenis-jenis pekerjaan tidak tetap seperti bekerja di bengkel, petani, dll. Selain itu juga tercatat beberapa kasus kejahatan seksual yang dilakukan oleh pejabat baik di tingkat desa, hingga kota.

Walau begitu, angka pada pelaku dengan kategori lainnya perlu menjadi perhatian. Kategori lainnya ditujukan kepada pelaku dengan jenis pekerjaan yang dapat dikatakan serabutan.

Salah satu yang menjadi perhatian dalam kasus kejahatan seksual terhadap anak adalah tingginya angka pelaku yang berprofesi sebagai tenaga pendidik. Walaupun tenaga pendidik yang dimaksudkan dalam kategori ini tidak hanya guru yang mengajar di sekolah namun juga mencakup pelatih atau pengajar dari korban-korban tersebut. Penemuan ini memberikan satu tanda lagi, bahwa mungkin saja kasus yang terjadi di institusi Pendidikan bisa jadi lebih tinggi daripada angka yang tertangkap dalam pemantauan yang dilakukan.

 

3. Kasus Kejahatan Dalam Lingkungan Institusi Pendidikan

Dari data di atas, kita melihat isu lain yang perlu didalami. Mengingat banyaknya kasus kejahatan seksual terhadap anak dilakukan dalam lingkungan institusi Pendidikan, seberapa dalamkah masalah ini sehingga harus menjadi salah satu concern dalam penanganan kasus kejahatan seksual terhadap anak. Bagaimana dengan, tempat-tempat yang rawan terjadinya kejahatan seksual terhadap anak.

Terkait dengan kasus kejahatan dalam lingkungan institusi Pendidikan yang mencakup sekolah, pondok pesantren dan jenis Pendidikan alternatif lainnya, angka terjadinya kasus kejahatan seksual terhadap perlindungan anak termasuk rendah, walaupun pelaku yang berprofesi sebagai tenaga pendidik cukup banyak. Namun dari penemuan data yang dikumpulkan oleh ECPAT Indonesia 5% dari kasus kejahatan seksual terhadap anak terjadi di lingkungan Pendidikan. Walaupun tenaga pendidik disini juga mencakup pelatih olahraga, ataupun guru-guru ekstrakurikuler yang tidak selalu bersentuhan dengan murid sekolah.

Namun, ini menjadi catatan dan perhatian bahwa sekali lagi pelaku kejahatan seksual merupakan orang-orang terdekat dari korban anak-anak tersebut. Dan lingkungan yang kita selalu anggap aman, bisa menjadi tempat dimana predator mencari mangsanya.

 

4. Penanganan Kasus Kejahatan Seksual Terhadap Anak

Setelah mempelajari pola korban, pelaku, dan tempat kejadian perkara, kemudian adalah melihat bagaiamana respon spp dalam penanganan kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak. Dari data yang berhasil dihimpun mayoritas kasus kejahatan sudah memasuki proses penyelidikan, dengan angka kasus yang sudah masuk ke dalam proses persidangan masih dapat dikatakan rendah terlebih dari hukuman atau vonis yang dijatuhkan terhadap kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak. Namun satu hal yang masih sangat disayangkan adalah penjatuhan vonis yang tidak memasukkan restitusi atau penggantian atas kerugian korban, seperti yang dapat dilihat di bawah kasus-kasus yang berujung dengan penjatuhan vonis pidana dan restitusi masih sangat rendah. Padahal jika kita melihat dari perspektif korban, restitusi menjadi penting dalam memulihkan luka fisik ataupun mental korban.

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Masukkan kata kunci pencarian...