Uji Coba Wisata Pedesaan Ramah Anak (Bebas Eksploitasi) di Bukittinggi

BeritaKomentar

Pada tanggal 16 November 2018, ECPAT Indonesia Bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyelenggarakan Uji Coba Panduan Wisata Pedesaan Ramah Anak (Bebas Eksploitasi) di Bukittinggi. Uji coba ini melibatkan para pemangku kepentingan di tingkat desa, sektor swasta dan para tokoh masyarakat setempat.

Uji coba ini merupakan rangkaian kegiatan dari penyusunan panduan wisata pedesaan ramah anak (bebas eskploitasi) yang telah disusun sebelumnya. Penyusunan Panduan ini dilatarbelakangi oleh situasi dimana dampak pariwisata yang mampu menghasilkan keuntungan bagi devisa negara, namun pariwisata juga memberikan dampak kerentanan bagi anak untuk mengalami eksploitasi seksual. Hasil assessment yang dilakukan di tujuh (7) destinasi wisata yaitu Pulau Seribu (DKI Jakarta), Karang Asem (Bali), Gunung Kidul (Yogyakarta), Garut (Jawa Barat), Bukit Tinggi (Sumatera Barat), Toba Samosir dan Teluk Dalam (Sumatera Utara) oleh ECPAT Indonesia bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2016-2017, ditemukan adanya praktek kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang dilakukan oleh sejumlah wisatawan dalam bentuk pelacuran anak, pornografi anak, perkawinan anak dan perdagangan seks anak. Pada tahun 2015, ECPAT Indonesia juga melakukan penelitian di tiga lokasi wisata yaitu Lombok (NTB), Kefamenanu (NTT) dan Jakarta Barat (DKI Jakarta), tiga lokasi ini pun menemukan kasus-kasus kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang dilakukan oleh wisatawan. Berdasarkan hal tersebut, maka KPPPA bersama dengan ECPAT Indonesia berusaha mencegah terjadinya eksploitasi seksual di daerah wisata salah satunya membuat Panduan Desa Wisata Ramah Anak, hal ini agar Desa Wisata memiliki panduan untuk mencegah eksploitasi seksual anak sejak dini.

Uji coba ini dimulai dengan pembukaan dari Asisten Deputi Perlindungan Anak dari situasi kekerasan dan eksploitasi, Ibu Valentina Gintings. Pada pembukaannya, beliau menjelaskan tentang pentingnya pemahaman perlindungan anak dari segala bentuk kekerasan dan eksploitasi di destinasi wisata. Hal yang harus menjadi perhatian adalah jangan sampai destinasi wisata yang dikembangkan justru berpotensi menjadi tempat terjadinya kekerasan dan eksploitasi terhadap anak.

Paparan selanjutnya disampaikan oleh perwakilan dari Kementerian Pariwisata, Bapak Antariksa. Beliau memaparkan tentang konsep wisata pedesaan yang telah disusun oleh Kementerian Pariwisata serta keterkaitannya dengan konsep wisata pedesaan ramah anak yang akan diujicobakan.

Setelah pemaparan dari perwakilan kementerian pariwisata, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari perwakilan ECPAT Indonesia, Bapak Ahmad Sofian. Beliau memaparkan secara teknis dasar penyusunan panduan serta indikator-indikator yang menjadi indikator kunci dalam penerapan wisata pedesaan ramah anak bebas eksploitasi.

Setelah sesi pemaparan dan makan siang, peserta diminta untuk berdiskusi tentang panduan dan indikator wisata pedesaan ramah anak yang telah disusun oleh tim. Peserta kemudian mendiskusikannya dan melihat apakah ada masukan, input maupun komentar dari peserta tentang indikator-indikator yang telah disusun. Setelah berdiskusi, peserta kemudian memaparkan temuan-temuan mereka berdasarkan pengalaman praktik langsung di lapangan.

Hasil paparan peserta ini kemudian menjadi masukan bagi tim untuk penyempurnaan panduan ini sehingga dapat diterapkan dan diimplementasikan langsung di desa/kelurahan yang memiliki destinasi wisata pedesaan. Sehingga desa/kelurahan dapat tetap melindungi anak-anak dari segala bentuk eksploitasi yang mungkin terjadi di wisata pedesaan yang sedang dikembangkan.

Penulis : Deden Ramadani (Koordinator Riset)

ECPAT IndonesiaUji Coba Wisata Pedesaan Ramah Anak (Bebas Eksploitasi) di Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.