Workshop dan Sosialisasi Program “Internet Aman Untuk Anak” di Kalimantan Barat

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Pelaksanaan program Internet Aman untuk Anak di Kalimantan Barat ini menandakan bahwa dimulainya serangkaian kegiatan yang akan dilakukan oleh ECPAT Indonesia di berbagai kota di Indonesia, antara lain yaitu Pontianak, Medan, Surabaya dan Palembang.

Pelaksanaan perdana kegiatan dalam rangka menyukseskan program Internet Aman untuk Anak ini diadakan di Pontianak, Kalimantan Barat pada 2-3 Mei 2019 dan memiliki 2 agenda di dalamnya, yaitu workshop pencegahan dan penanganan eksploitasi seksual anak melalui media online serta sosialisasi pencegahan dan penanganan eksploitasi seksual anak melalui online.

Internet Aman untuk Anak sendiri merupakan sebuah program hasil kerjasama antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia dengan ECPAT Indonesia, yang di tujukan menjadi ruang untuk saling berbagi dan bertukar informasi guna meningkatkan kapasitas baik para aktivis anak serta kalangan anak-anak itu sendiri mengenai adanya isu eksploitasi seksual anak di media online serta cara penanganannya.

Workshop yang diadakan pada 2 Mei 2019, di fasilitasi oleh Umi Farida (ECPAT Indonesia), Widuri (ICT Watch), Andy Ardian (ECPAT Indonesia), dan Ahmad Sofian (ECPAT Indonesia) dan dihadiri oleh total sebanyak 86 peserta yang terdiri dari unsur aktivis anak seperti tenaga pendidikan, SKPD, PATBM, Unit PPA, LSM, dan Forum Anak di Pontianak.

Terdapat empat topik utama yang di bahas oleh para pemateri pada workshop yang berlangsung pada hari pertama, yaitu:

  • Peran orang tua dan guru, komunitas dalam mencegah dampak dari media sosial dan digital platform
  • Konsekuensi materi IT dan penggunaan media sosial dan digital platform oleh anak
  • Situasi serta jenis-jenis tindak eskploitasi seksual anak di media online
  • Hukum yang memberikan perlindungan anak-anak

Topik diatas diharapkan dapat memberikan informasi dan membantu para peserta aktivis anak dalam memahami tren terkini mengenai isu ESA di ranah online, model pengasuhan di era digital serta tidak terlupakan memahami perundang-undangan dan mekanisme hukum dalam penanganan tidak hanya kasus ESA saja namun kasus anak lainnya.

Peranan DP3KBP3A juga tentu saja diperlukan disini guna memantau dan meningkatkan kerjasama khususnya dalam melakukan sosialisasi dan penanganan kasus yang terjadi di ranah online, juga koordinasi dengan Panitia Lokal (Dinas PPA daerah) untuk memastikan ketepatan sasaran sosialisasi sehingga pesan yang akan disampaikan akan tepat pada target sasaran.

Beralih ke pelaksanaan program pelatihan Internet Aman untuk Anak di Pontianak pada hari kedua yaitu 3 Mei 2019, melibatkan peserta dari kalangan pelajar. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Bapak Walikota Pontianak, Ir. H. Edi Rusdi Kamtono, M.M., M.T. ini memfokuskan kepada penguatan kapasitas para pelajar mengenai pencegahan eksploitasi seksual anak di ranah online.

Selama penyelenggaraan di hari kedua, terdapat lima pembicara yaitu Paryono (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak), Inayatun Nurhasanah (Unit PPA SAT Reskrim Polresta Pontianak Kota), Andy Ardian (ECPAT Indonesia), Widuri (ICT Watch) dan Oviani Fathul Janah (ECPAT Indonesia) dengan topik yang di bahas antara lain:

  • Literasi di Era Digitalisasi Dunia Pendidikan
  • Kejahatan Siber
  • Eksploitasi Seksual Anak di Ranah Online
  • Jejak Digital dan Privasi
  • What you(th) can do?

Setelah pembahasan lima topik tersebut, sesi selanjutnya ialah tentang tips-tips aman dalam berinternet, penjelasan tentang lembaga-lembaga pelaporan serta pembuatan action plan mengenai langkah-langkah yang harus mereka lakukan demi mencegah diri sendiri dan lingkungan sekitar dari terjadinya tindak kejahatan eksploitasi seksual anak melalui media online.

Inisiasi tim ECPAT Indonesia dalam menghadirkan adanya post-test di akhir sesi sosialisasi pada kesempatan kali ini menunjukkan bahwa para peserta telah memahami banyak hal baru seperti adanya lembaga pelaporan sehingga mereka dapat melaporkan kasus eksploitasi seksual yang terjadi.

Hal ini tentu saja merupakan hal yang baik serta harus dilanjutkan pemantauannya mengingat ide-ide action plan yang telah dibuat oleh para pelajar tersebut juga dinilai sangat menarik. Terlebih partisipasi aktif dan interaktif dari banyak peserta pada saat sesi tanya jawab menguak tingginya potensi yang dimiliki oleh mereka untuk dikembangkan melalui misalnya peran dalam Forum Anak atau kelompok lainnya.

Penyusun Laporan : Andy Ardian (Program Manager)
Editor : Muhammad Shobar Arief (Mahasiswa Magang dari Universitas Brawijaya)

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Masukkan kata kunci pencarian...