Meeting Perkenalan Program Penguatan Kapasitas UPTD dengan LSM Mitra

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Menindaklanjuti pertemuan sosialisasi hasil assessment kapasitas UPTD dengan 5 UPTD terpilih yakni DKI Jakarta, Kota Bandung, Kabupaten Sleman, Kota Surakarta, Kabupaten Sidoarjo, ECPAT Indonesia  menyelenggarakan pertemuan dengan jejaring LSM yang bekerja di 5 daerah sasaran program, dengan fokus utama tentang perlindungan anak.

Hadir dalam pertemuan tersebut perwakilan dari 13 LSM  yakni Bandung Wangi, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, Rumah Faye, Yayasan Anak dan Perempuan, dan Parinama Astha dari DKI Jakarta,  Yayasan Bahtera, KAP dan LAHA dari Bandung, Yayasan SAMIN dan Indriyanati dari Yogyakarta, KAKAK dari Solo dan SCCC serta  Alit dari Sidoarjo.

Pertemuan ini bertujuan untuk memperkenalkan program ECPAT Indonesia, mendapatkan refleksi pengalaman konkrit dari LSM mitra terkait isu kekerasan seksual terhadap anak di daerah dampingan, pengalaman akan layanan UPTD PPA di daerah, dan mendapatkan masukkan dari mitra tentang kontribusi yang bisa dilakukan LSM Mitra terkait penguatan UPTD PPA dan pertemuan dengan PATBM dan Forum anak.

Dalam sambutannya, Koordinator Nasional ECPAT menekankan perlunya meningkatkan kualitas layanan UPTD PPA sebagai pemain utama dalam layanan terhadap anak korban kekerasan.  Sejauh ini, korban kekerasan seksual masih di samakan dengan penanganan kasus kekerasan lainnya, sedangkan dari hasil assessment dengan staff UPTD terkuak bahwa dibutuhkan standard layanan yang berbeda, karena trauma yang jauh lebih mendalam dan rasa malu dan stres yang bertahan sedemikian lama serta merusak korban.

Dalam diskusi, diangkat beberapa point penting yang masih menjadi pekerjaan rumah, yakni:

  • Mekanisme updating data yang terpilah menurut gender, yang harus terus disempurnakan. Data simphoni diharapkan akan mampu memberikan gambaran situasi persoalan anak Indonesia, dengan tetap menjaga aspek kerahasiaan korban. Jika tidak gerakan ini akan terasa bagaikan jalan di tempat. Dibutuhkan terobosan dengan penggunaan tek
  • Bentuk-bentuk kekerasan seksual online perlu diupdate dengan variasi jenis kekerasan saat ini, Contoh kasus fetish terbaru dari jawa tengah menunjukkan variasi model kekerasan online.
  • Dibutuhkan sistem safe guarding yang berlaku untuk semua orang, karena kasus-kasus terakhir menunjukkan bahwa pelaku perlindungan anak pun bisa menjadi pelaku kekerasan. (Kasus Lampung, maupun Yogyakarta, dimana pelakunya adalah aktifis).
  • Dibutuhkan juga konseling untuk petugas, karena petugas juga bisa stress. Para pekerja sosial juga harus memiliki jadwal untuk konseling antar dan untuk mereka.  Demikianpun penguatan secara spiritual dibutuhkan untuk petugas maupun korban.
  • Menurut pengamatan, perspektif HAM anak, masih lemah di kalangan staff UPTD.  Sistem yang tersedia belum mangakomodir perspektif hak anak.  Penguatan yang dilakukan haruslah yang memperkuat sistem.
  • Korban banyak menderita karena stigma, maka penyadaran ke masyarakat bahwa anak adalah korban, sehingga jangan dipersalahkan, sangat perlu untuk dilakukan.
  • Masyarakat juga perlu peningkatan kesadaran, sehingga mereka mampu memberikan layanan psikososial awal, sebelum ditangani oleh profesional.
  • Lisa dari Alit Lintang secara khusus mengangkat bahwa kesadaran tentang perlindungan anak masih lemah di kalangan APH.  Otonomi daerah juga menyumbang pada rencana penguatan perlindungan anak, karena isu ini masih dianggap isu minor, kurang penting, Standard Operational Prosedur juga belum dipahami secara merata oleh staf maupun anak magang, yg dialami ketika mendampingi anak korban untuk melaporkan kasus.  Sistem yang ramah anak, harus dibangun dan disosialisasikan ke semua lini staff, termasuk anak magang.
  • Hishom dari SCCC mengangkat perlunya meningkatkan sambung rasa antar para pekerja perlindungan anak, dalam lembaga maupun antar lembaga untuk meminimalisir terjadinya kasus.  Dalam lembaga pun antar staf perlu meningkatkan komunikasi personal.
  • Dadang dari LAHA mengangkat perlunya  jejaring menanganan kasus di masa pandemi serta peningkatan kualitas kerja konselor.
  • Shoim dari KAKAK mengangkat perlunya memahamkan orang tua, karena saat ini banyak anak korban ESA on line, yang ternyata orang tuanya tidak tahu bahwa anaknya terjerat kasus. SOP sudah dimiliki oleh UPTD tapi masih umum dan diberlakukan sama untuk setiap kasus, sedangkan kasus ESA harusnya diperlukan konselor yang mampu memberikan rasa aman dan percaya pada korban. Penguatan konselor sangat dibutuhkan, demikianpun penguatan pendampingan hukum.
  • Penggunaan istilah Pedofil juga harus dihindari dan dipahami, karena dalam kasus tertentu pelaku bisa dibebaskan karena alasan pedofil
  • Pemahaman dan pendalaman kasus perlu ditingkatkan. Perlunya pembedaan perlakuan antara kasus perkosaan dengan kasus hubungan seks suka sama suka, karena sering terjadi, pelaku, lelaki saja yang dihukum sedangkan perempuan dibebaskan. Seharusnya penerapan UU Perlindungan anak, kedua-duanya harus dibebaskan, karena anak adalah lelaki dan perempuan.  Sering terjadi bias jender dalam penanganan kasus.
  • Erna dari Parinama Astha mengangkat soal perlunya penegakkan hukum terhadap pembeli jasa seks, bukan hanya mucikari atau agen yang menjadi pelaku, tetapi pembeli jasa juga harus dihukum.sejauh ini eksplorasi hanya sampai pada mucikari, tetapi tidak menyentuh pembeli jasa seks. Diskriminasi hukum juga masih sering terjadi, dimana pelaku dengan korban yang banyak, hukumannya sama dengan pelaku dengan korban yang 1 orang.
  • Untuk mekanisme kerja sama, dibutuhkan pertemuan dan kejelasan lebih jauh dengan para mitra, agar lebih jelas. Mitra juga bertanya apakah dalam hubungan dengan UPTD melalui mitra atau tidak. Kejelasan tersebut sebaiknya dibahas dalam pertemuan khusus.
  • Pertemuan dengan PATBM dan forum anak perlu dilakukan secara daring. ECPAT diharapkan memikirkan juga soal bagaimana agar anak-anak tersebut memiliki akses internet.

Penulis : Maria Yohanista

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Masukkan kata kunci pencarian...

Enter search keyword...