Workshop “Enhancing a Victim-Centered Approach : Identification, Assistance, and Protection of Trafficking Victims in the Asia-Pacific Region”

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Workshop ini dilangsungkan di gedung ICC Jeju pada tanggal 3-5 Juni 2014, terdiri dari total 13 sesi dibuka oleh Mantan Duta Besar korea untuk Amerika Serikat yang sekaligus menjabat sebagai ketua CIFAL JEJU, Dal-ho CHUNG, dalam paparan nya beliau menyampaiakan bahwa perdangangan manusia merupakan kejahatan yang tidak bisa dimaafkan yang kita harus bersama-sama untuk menghapuskan ini atas nama solidaritas kemanusiaan.  Beliau juga menyampaiakn bahwa workshop ini memiliki besar harapan agar dapat bersama-sama memberikan sharing informasi mengenai kasus-kasus human trafficking, penanganan dan diskusi dalam mendapatkan solusi nya.

Sesi pertama di isi oleh Tim HOWE, berasal dari IOM Headquarter yang merupakan Regional Programme and Liaison Officer, menjelaskan mengenaik 3P’s yakni Protection, Prevention, Prosecution, Problems.

Sesi kedua diberikan oleh WYATT Hamish yang merupakan Project specialist dari Regional Support Office of the Bali Process. Materi yang berjudul Awareness Raising : A Checklist, berisi bagaiman setiap lembaga mampu benar-benar menciptakan campaign yang efektif dan dapat memberikan perubahan yang besar kepada masyarakat luas. Hamish menyebutkan, ada lima langkah dalam mendesign kampanye yang efektif diantaranya :

Research – Audience – Messaging – Dissemination – Monitoring dan Evaluasi

Sesi ketiga yang berjudul Identifying Victims of Trafficking : Challenges and Approaches diberikan oleh Masako Ueda yang merupakan Trafficking in Persons Focus Officer, IOM Regional Office for Asia and the Pacific. Kita dapat mengidentifikasi korban melalui tiga cara denga mengklasifikasi Action, means dan purposes dari tarfficking tersebut. Beberapa bentuk tarfficking ialah eksploitasi, kerja paksa, perbudakan.

Assistance to Victims of Trafficking materi ini diberikan oleh Bandana Pattanaik yang merupakan International Coordinator GAATW (Global Alliance againts Trafficking in Women) menjelaskan bahwa bantuan kepada korban ini mengacu pada berbagai tindakan restoratif ditujukan untuk mendukung korban trafficking untuk dapat kembali sehat, kesejahteraan dan penghidupan dalam jangka pendek, menengah dan panjang, dan kembali ke negara asal.

Satu hal yang mesti diingat adalah Korban memiliki hak untuk mendapatkan bantuan – kita, LSM atau pemerintahan. Kita memiliki ‘tanggung jawab / kewajiban’ untuk memberikan bantuan. Maka agar efektif bantuan harus diberikan dalam memberdayakan, tidak diskriminatif, tidak menghakimi dan non-kondisional, menghormati martabat manusia, privasi dan kerahasiaan, dan hak semua orang untuk membuat keputusan tentang kehidupan mereka. Hal selanjutnya yang harus diingat ilah ketika korban melakukan pemulangan ke daerah asal ialah korban kembali dengan aman, mendapatkan transportasi yang layak.

SHARE
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Masukkan kata kunci pencarian...

Enter search keyword...